Jember (beritajatim.com) – Kondisi Perusahaan Umum Daerah Perkebunan Kahyangan milik Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendekati sehat. Diperkirakan perusahaan itu akan meraih laba Rp 500 juta tahun ini.
Direktur Utama PDP Kahyangan Sofyan Sauri mengatakan, kondisi mendekati sehat ini didasarkan pada penilaian Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Timur pada 2024.
“Kami di posisi kurang sehat tapi mendekati sehat secara umum. Paling krusial kenapa kok kurang sehat ya, karena kurang modal memang,” kata Sofyan, Senin (27/10/2025).
Namun yang membuat Sofyan bisa bernapas lega adalah penilaian positif BPKP terhadap inovasi yang dilakukan PDP Kahyangan. “Inovasi dianggap sudah positif, digitalisasi, peningkatan-peningkatan sumber daya manusia, dianggap positif,” katanya.
Tak hanya penilaian BPKP yang membuat Sofyan lega. Namun juga kinerja keuangan PDP Kahyangan yang mulai membaik. “Awalnya kami memproyeksikan laba sekitar Rp 200 juta, kemungkinan sampai akhir Desember, prognosa kami sekitar Rp 500 juta sampai 600 juta,” kata Sofyan.
Sofyan mengakui bahwa ada sejumlah kendala yang belum bisa diselesaikannya. “Contoh mengenai produksi. Produksi karet kemarin sudah kita mapping, masih ada kendala di kehadiran penyadap, tentunya persentasenya masih kecil,” katanya.
Namun, lanjut Sofyan, ada pula peningkatan pendapatan dari diversifikasi usaha komoditas tebu yang cukup signifikan. “Per hektarenya bisa sampai Rp 25 juta untuk tebu plant cane (PC) atau tanaman tebu pertama, dan Rp 13 juta untuk tebu ratoon cane (RC) yang tumbuh dari sisa tebangan sebelumnya,” katanya.
Capaian laba ini melanjutkan tren positif sejak 2024. Saat itu PDP Kahyangan laba meraup Rp 50 juta,
Kendati kecil nominalnya, surplus ini merupakan angin segar bagi manajemen Kahyangan dan Pemerintah Kabupaten Jember. Berdiri pada 1969, kondisi finansial Kahyangan memburuk sejak 2013.
Setelah berkontribusi Rp. 9,673 miliar untuk PAD Jember pada 2012, terjadi penurunan kontribusi menjadi Rp 6,966 miliar setahun kemudian. Penurunan tajam kontribusi untuk PAD kembali terjadi pada 2014 menjadi Rp 3,548 miliar.
Setelah itu, praktis Kahyangan tak menyumbangkan apapun untuk PAD Jember. Padahal sejak berdiri pada 1969 hingga 2014, Kahyangan tak pernah absen menyetorkan laba untuk PAD dengan nominal total kurang lebih Rp 100,044 miliar.
Justru selanjutnya perusahaan perkebunan tersebut selalu merugi, yakni Rp 2 milar pada 2020, Rp 1,4 miliar pada 2021, Rp 600 juta pada 2022, dan Rp 200 juta pada 2023. [wir]






