Agak repot mendefinisikan capaian Persebaya, saat bermain imbang 0-0 dengan PSBS Biak di Stadion Internasional Maguwoharjo, Sleman, Jumat (24/10./2025) sore.
Di atas kertas, seharusnya Persebaya bisa memenangi pertandingan itu. Sebelum pertandingan, PSBS menduduki peringkat 17 dari 18 peserta Super League 2025-26. Mereka hanya menang sekali dan lima kali kalah dalam delapan pertandingan. Seharusnya pertandingan ini termasuk dalam kategori tambang tiga poin.
Namun sekali lagi, Persebaya di bawah Edu Perez menunjukkan cara mengubah peluang menjadi ketidakbecusan. Akurasi operan yang buruk (72 persen) melengkapi ketidakbecusan sore itu.
Alih-alih merebut tiga poin dengan permainan yang menawan, Persebaya beruntung keluar dari lapangan dengan mengantongi satu poin. Menit 21, Lelis nyaris mencetak gol ke gawang sendiri, Beruntung bola antisipasinya yang mengarah ke dalam gawang bisa ditepis Ernando Ari.
Perdebatan terjadi: apakah bola yang ditepis Ernando sudah melewati garis gawang atau belum. Tidak adanya teknologi garis gawang membuat hal ini akan tetap menjadi perdebatan. Namun insiden ini kembali menunjukkan betapa rapuhnya pertahanan Persebaya.
Sebelas menit kemudian, Persebaya harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Leo Lelis mendapat kartu merah langsung dari wasit Axel Febrian Sinaga, karena melanggar Mohcine Hassan.
Bola sebenarnya mengenai kaki Lelis terlebih dulu. Namun posisi ‘sliding tackle’ menyebabkan Lelis tidak bisa menghentikan kakinya mengenai kaki pemain asal Maroko itu. Perdebatan kembali mengemuka: apakah Lelis layak diberi kartu merah langsung atau sebatas kartu kuning saja.
Namun di luar perdebatan itu, pelanggaran itu tak perlu terjadi jika lini belakang Persebaya cukup rapi dalam memainkan operan. Francisco Rivera bermaksud melakukan build-up. Namun operan yang nanggung membuat bola lebih dekat ke Hassan dan berujung tekel dari Lelis.
Situasi semakin parah, setelah Mikael Tata yang masuk menggantikan Toni Firmansyah pada menit 36, justru terkena kartu kuning kedua pada menit 45. Praktis Persebaya mengawali babak kedua dengan hanya sembilan pemain di lapangan.
Dengan sembilan pemain melawan sebelas pemain, Persebaya beruntung memiliki Ernando Ari Sutaryadi di bawah mistar gawang. Penyelamatan demi penyelamatan oleh Ernando dikombinasikan dengan kurang tajamnya lini depan PSBS membuat Persebaya beruntung bisa bertahan di tengah ketidakbecusan cara bermain.
Tidak ada yang bisa dikatakan lagi. Seluruh pendukung Persebaya tidak bisa memahami cara bermain yang ditunjukkan Bruno Moreira dan kawan-kawan. Berada di peringkat sembilan dalam delapan kali pertandingan menjadi kabar buruk.
Musim 2023-24, Persebaya menduduki peringkat 11 setelah delapan pertandingan. dengan mengantongi sepuluh angka. Pada akhir musim, Persebaya menduduki peringkat 12, terpaut tujuh angka dengan RANS FC yang berada pada posisi teratas zona degradasi.
Musim 2022-23, Persebaya juga menduduki peringkat 9 setelah memainkan delapan pertandingan dan mengantongi sepuluh angka. Pada akhir musim, Persebaya menduduki peringkat keenam dengan 52 angka, terpaut 23 angka dengan PSM Makassar yang menjadi juara musim itu.
Jadi, deja vu mana yang bakal terulang? [wir]






