Ponorogo (beritajatim.com) – Ketika sebagian masyarakat mengeluh akibat naiknya harga telur ayam di pasaran, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo justru memetik hasil dari langkah antisipatif yang sudah dirintis sejak 2 bulan lalu.
Melalui program Taskintul (Pengentasan Kemiskinan yang Betul), warga kurang mampu kini tidak lagi sekadar menjadi penonton naik-turunnya harga kebutuhan pokok, mereka ikut menikmati manfaatnya.
Program yang digagas Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko ini, memberi bantuan 50 ekor ayam petelur dan subsidi pakan bagi tiap kepala keluarga penerima manfaat. Tujuannya sederhana, yakni menumbuhkan kemandirian ekonomi keluarga dari halaman rumah sendiri.
“Bantuan ini bisa jadi ternak kecil di belakang rumah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Harapannya setiap rumah tangga mampu menyelesaikan problematika pangan masing-masing,” kata Bupati Sugiri Sancoko, ditulis Jumat (24/10/2025).
Menurut Kang Giri, sapaan akrabnya, program Taskintul bukan hanya soal memberi ayam dan pakan, melainkan upaya membangun kesadaran ketahanan pangan dari tingkat keluarga. Dia menyebut, di tengah mahalnya harga telur, warga penerima program justru menjadi kelompok paling tangguh. Sebab, mereka mampu memenuhi kebutuhan gizi dan ekonomi tanpa tergantung pasar.
Dampak program itu kini terasa nyata di lapangan. Di Desa Gelang Kulon, Kecamatan Sampung, beberapa keluarga penerima manfaat mulai menikmati hasilnya. Setiap pagi, suara ayam berkokok menjadi tanda awal hari sekaligus rezeki baru.
“Hampir setiap hari bertelur. Alhamdulillah harga telur pas mahal, sebagian dikonsumsi sendiri, sebagian dijual,” ungkap Sarmini, salah satu warga penerima bantuan.
Dari sudut pandang Pemkab, inilah bukti bahwa program pengentasan kemiskinan tak melulu tentang bantuan tunai. Taskintul menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dari sisi pangan bisa menciptakan efek ganda. Yakni memenuhi kebutuhan gizi keluarga sekaligus menambah penghasilan. (end/ted)






