Mojokerto (beritajatim.com) – Sebuah langkah inspiratif lahir dari gang kecil di Kota Mojokerto. Cafe Lawu 33 yang resmi diluncurkan pada, Jumat (17/10/2025), menjadi kafe pertama di Indonesia yang secara khusus membuka ruang magang bagi kaum disabilitas.
Berlokasi di Jalan Lawu Gang 3 No. 3, Perumahan Magersari Indah, sesuai namanya, kafe ini mengusung semangat inklusif. Menghadirkan tempat kerja yang memanusiakan dan memberdayakan penyandang disabilitas, khususnya tuna rungu.
Owner Cafe Lawu 33, Ferry Gunawan mengatakan, konsep awal berdirinya kafe tersebut bukan semata mengejar keuntungan bisnis, melainkan berangkat dari keinginan untuk menghadirkan ruang kerja yang menghargai potensi manusia secara utuh. Termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
“Kami ingin menunjukkan bahwa bisnis tidak selalu tentang uang dan keuntungan. Kami ingin berkolaborasi dengan anak-anak disabilitas, bukan sekadar memberi mereka pekerjaan, tapi memfasilitasi passion mereka. Kami ingin mereka dimanusiakan,” ungkapnya, Jumat (17/10/2025).
Untuk tahap awal, Cafe Lawu 33 menggandeng enam siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB) B Pertiwi Kota Mojokerto, lima di antaranya perempuan dan satu laki-laki. Mereka seluruhnya merupakan penyandang disabilitas tuna rungu. Mereka akan menjalani program pelatihan selama tiga bulan yang dikemas seperti magang profesional.
Selama masa magang, para peserta akan mendapatkan pelatihan keterampilan di berbagai bidang, mulai dari kasir, dapur, hingga pelayanan (waiter). Ferry memastikan bahwa pelatihan dilakukan secara serius agar para peserta benar-benar memiliki kemampuan dan keahlian layak kerja.
“Mereka tidak sekadar bermain atau ikut-ikutan, tapi benar-benar kami latih agar memiliki skill yang bisa digunakan di dunia kerja nantinya. Harapan terbesar kami, mereka bisa bekerja dan hidup mandiri seperti anak-anak pada umumnya,” tambahnya.
Pemilik Olivia Bakery ini juga turun langsung sebagai chef memastikan bahwa kualitas makanan dan minuman di Cafe Lawu 33 tetap terjaga. Meski setiap tiga bulan sekali, mereka akan selesai menjalani proses magang dan diganti dengan kaum disabilitas lainnya. Namun ia memastikan kualitas menu yang ada tetap terjadi.
“Kualitas rasa dijamin tetap sama, meski setiap tiga bulan akan ada pergantian peserta magang. Saya sendiri turun langsung di dapur untuk memastikan kualitas makanan dan minuman. Cafe Lawu 33 buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB tapi mereka bekerja 5-6 jam,” ujarnya.
Para peserta magang bekerja maksimal selama lima hingga enam jam per hari agar tetap nyaman. Sistem pemesanan pun dirancang ramah bagi pengunjung, dengan panduan pemesanan dan pendampingan guru pembimbing. Secara bertahap, seluruh staf disabilitas akan dibiasakan menggunakan bahasa isyarat dalam melayani pelanggan.
Dari segi menu, Cafe Lawu 33 menawarkan beragam pilihan mulai dari kopi tubruk khas racikan resep peninggalan sejarah hingga makanan berat dengan harga mulai Rp9.000 hingga Rp29.000. Salah satu menu andalannya adalah Toast Lava, camilan spesial dengan racikan unik dari dapur Lawu 33.
Antusiasme juga datang dari para orang tua peserta magang yang merasa bangga anak-anak mereka mendapat kesempatan untuk belajar dan bekerja di lingkungan yang menghargai perbedaan. Ke depan, Cafe Lawu 33 berencana membuka kesempatan bagi peserta dari luar Kota Mojokerto.
“Bahkan nantinya akan ada prosesi wisuda bagi para peserta yang telah menyelesaikan masa pelatihan. Harapan kami, dari gang kecil di Kota Mojokerto ini, lahir anak-anak disabilitas yang punya kemampuan dan kemandirian seperti manusia normal lainnya,” pungkasnya. [tin/ian]






