Pacitan (beritajatim.com) – Tahun ajaran baru menjadi ujian tersendiri bagi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 46 Pacitan. Sebelum kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai pada 30 September lalu, tiga calon siswa memilih mundur dan tidak melanjutkan proses pendidikan di sekolah berasrama tersebut.
Kepala SRMA 46 Pacitan, Bayu Arifyanto, mengungkapkan bahwa awalnya terdapat 52 siswa yang mendaftar, namun hanya 49 siswa yang hadir saat MPLS digelar di Balai Latihan Kerja (BLK) Kelurahan Sidoharjo.
“Kami belum mengetahui alasan pasti mereka mundur, tapi kemungkinan karena belum siap tinggal di lingkungan asrama,” ujarnya, Selasa (14/10/2025).
Menurut Bayu, sistem asrama memang menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian siswa baru. Banyak di antara mereka yang masih perlu waktu beradaptasi dengan kehidupan mandiri dan jauh dari orang tua.
“Biasanya satu hingga dua bulan pertama menjadi masa penyesuaian. Kami dampingi terus agar mereka bisa betah dan merasa nyaman,” jelasnya.
Bayu menambahkan, seluruh kebutuhan siswa di SRMA 46 Pacitan ditanggung oleh negara. Mulai dari biaya makan, perlengkapan pribadi, hingga kebutuhan dasar lainnya.
“Semua gratis, bahkan kebutuhan kecil seperti potong rambut dan pembalut wanita pun sudah disediakan. Jadi sayang kalau kesempatan ini dilewatkan,” tegasnya.
Meski demikian, Bayu mengakui masih ada beberapa kekurangan dalam sarana dan prasarana, seperti ketersediaan LCD, printer, serta perlengkapan kegiatan ekstrakurikuler. Saat ini, SRMA 46 Pacitan memiliki 11 tenaga pendidik dan 17 tenaga kependidikan yang mengelola kegiatan belajar mengajar sekaligus pembinaan di asrama.
“Anak-anak juga kami batasi penggunaan handphone agar lebih fokus belajar. Harapannya, sarana pendukung yang belum lengkap bisa segera terpenuhi,” tutupnya. (tri/kun)






