Malang (beritajatim.com) – Di tengah meningkatnya minat investasi di kalangan anak muda Malang, ancaman penipuan berkedok investasi menjadi momok yang kian mengkhawatirkan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang mencatat telah menerima sekitar 1.700 aduan, di mana 11 persen di antaranya merupakan korban penipuan investasi.
Kondisi ini mendorong OJK Malang untuk mengedukasi generasi muda melalui seminar bertajuk “Financial Literacy for Youth: Membangun Kemandirian Finansial dan Karir Cemerlang” yang digelar di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Senin (6/10/2025). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Bulan Inklusi Keuangan 2025 dan menargetkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malang Raya.
Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, yang juga menjadi pemateri utama, menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah mengenalkan produk investasi legal yang diawasi oleh OJK serta membekali peserta dengan pemahaman dasar agar tidak mudah terjebak investasi bodong.
“Banyak penawaran investasi dari lembaga yang tidak terdaftar. Melalui acara ini, kami kenalkan investasi yang benar dan aman. Kami ingin mematahkan stigma bahwa investasi, seperti saham, butuh modal besar. Sekarang, dengan Rp100.000 saja sudah bisa membeli beberapa lot saham,” ujar Farid kepada beritajatim.com.
Menurut data OJK, pertumbuhan investor baru di Malang Raya meningkat signifikan, hampir mencapai 13.000 orang dalam setahun terakhir. Artinya, rata-rata ada sekitar 1.000 investor baru setiap bulannya.
“Saya yakin sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa atau anak muda di bawah usia 30 tahun. Secara nasional, 54 persen investor kita adalah anak muda,” jelas Farid.

Namun, di balik potensi tersebut, ancaman penipuan digital juga meningkat. OJK Malang mencatat sedikitnya 13 hingga 15 modus penipuan yang marak beredar, mulai dari jebakan tautan palsu melalui WhatsApp, aplikasi investasi ilegal, hingga tawaran keuntungan tidak wajar yang berujung pada hilangnya dana nasabah.
“Karena itu, kami terus melakukan sosialisasi. Selain memberikan alternatif produk keuangan yang aman, kami juga melatih mahasiswa untuk merencanakan keuangan. Sisihkan minimal 10% untuk ditabung atau diinvestasikan,” tambah Farid.
Ia juga mengingatkan pentingnya “investasi leher ke atas”, yakni meluangkan waktu untuk belajar dan memahami produk sebelum menempatkan dana. Acara tersebut turut menghadirkan Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM, dan Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc, sebagai pembicara kunci. Sementara panelis lain seperti musisi sekaligus influencer Piyu PADI dan praktisi pasar modal Poltak Hotradero dari PT Bursa Efek Indonesia membagikan pengalaman mereka dari sisi industri dan praktisi. [dan/beq]






