Jember (beritajatim.com) – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan beberapa hal yang harus diperbaiki pada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola Achmad Sudiyono, mantan kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Jawa Timur.
“Kami hari ini mengunjungi dapur SPPG I di daerah Patrang, Kabupaten Jember, yang menyuplai Makan Bergizi Gratis (MBG) ke SDN Bintoro 5 yang kemarin sempat ramai,” kata Ketua Komnas HAM Anis Hidayah, Minggu (5/10.2025).
Kualitas makanan dari dapur tersebut sempat diprotes oleh seorang guru, karena dianggap basi. Kendati dibantah oleh Sudiyono, protes itu menjadi berita di sejumlah media massa.
Dalam kunjungan ke dapur di Patrang, Anis menanyakan sejumlah hal kepada Achmad Sudiyono dan sejumlah staf SPPG. “Kami melakukan survei komprehensif di seluruh bagian dapur, terkait dengan penyimpanan bahan baku, tempat pengolahan, dan lain-lain,” katanya.
Hasil inspeksi itu masih harus dianalisis oleh Komnas HAM. “Tapi ada satu temuan awal bahwa Dapur I di Patrang ini belum memiliki SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi). Menurut saya ini cukup mendasar,” kata Anis.
SLHS adalah sertifikat tertulis dari pemerintah daerah yang menyatakan bahwa tempat pengelolaan pangan seperti restoran, katering, depot air minum, dan kantin, memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi yang berlaku, untuk menjamin keamanan dan kesehatan pangan yang disajikan.
“Komnas HAM juga menemukan adanya satu roti yang tidak layak konsumsi, karena sudah banyak semut, dan itu masih disimpan di tempat ruang penyimpanan makanan,” kata Anis.
Sementara itu, Achmad Sudiyono lega setelah bertemu Komnas HAM, karena membuatnya semakin terpacu untuk memperbaiki pelaksanaan MBG. “Jangan sampai pelayanan ini menyalahi aturan, kualitas, dan petunjuk teknis. Saya senang banget karena apa yang saya sampaikan tidak ada yang saya tutup-tutupi,” katanya.
Sudiyono berterima kasih kepada Komnas HAM yang datang ke Jember. “Sangat tanggap dan sangat cepat merespons,” katanya.
Sudiyono mengatakan, jauh sebelum dapurnya beroperasi, kualitas air yang akan digunakan sudah diuji laboratorium. “IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) sudah bersertifikat dan sudah ada pemeriksaan mikrobiologi.” katanya.
“Jadi kami sudah latih semua jauh sebelum ada SLHS. Jauh sebelum itu, kami enggak tahu fungsinya sertifikat, tapi makna dari sertifikat itu jauh sebelum dimulai, kami sudah melatih para relawan yang mau bekerja bersama Dinas Kesehatan,” kata Sudiyono.
“Jadi kami sudah mengantisipasi. Kami sudah melakukan jauh sebelumnya walaupun namanya tidak SLHS, tapi pelatihan penjamah makanan dan higientitas sanitasi. Jadi maknanya sama, dan saya jelaskan semua,” kata Sudiyono.
Sudiyono mengatakan SPPG yang dikelolanya adalah dapur MBG pertama yang beroperasi di Jember. “Tentunya kurang ada kesempurnaan, tapi kami menyempurnakan dalam perjalanan,” jelasnya.
Selama ini Sudiyono mengatakan, SPPG yang dikelolanya sudah bekerja sesuai prosedur standar yang ditetapkan. Namun dia berjanji akan lebih ketat lagi menerapkan prosedur tersebut. “Saya akan lebih hati-hati, saya akan lebih cerewet terhadap dapur,” katanya. [wir]






