Malang (beritajatim.com) – Penyair muda berbakat, Yohan Fikri mengajak puluhan penulis muda di Malang untuk meninggalkan ungkapan klise dan mulai meramu puisi dengan cara yang lebih segar dan berani. Dalam lokakarya MTN Asah Bakat “Penulisan Puisi” yang digelar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, Selasa (23/9/2025), ia membagikan serangkaian taktik untuk menciptakan sajak yang memikat dan memiliki daya kejut.
Acara yang merupakan bagian dari program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya ini diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Pelangi Sastra Malang. Program ini bertujuan menjaring dan membina calon sastrawan agar siap bersaing di panggung global.
Yohan Fikri, yang karyanya telah dimuat di berbagai media nasional, membuka sesi dengan tajuk provokatif: “Hijrah dari Bahasa Publik”. Menurutnya, tantangan terbesar penulis adalah mengolah tema agar tidak terjebak pada pengulangan ide yang sudah umum.
“Puisi lebih dari sekadar mengganti kata ‘sore’ dengan ‘senja’. Ukurannya bukan pemilihan kata yang puitik, tapi bagaimana kita mengekspresikannya dengan cara yang tidak klise,” tegas Yohan di hadapan ratusan peserta yang terdiri dari siswa, mahasiswa, dan pegiat sastra.
Untuk mencapai kesegaran itu, ia mendorong peserta untuk berani membenturkan dua kata dari lingkaran makna yang berbeda demi menciptakan fantasi baru. “Jangan takut menjadi aneh. Kata yang tidak masuk akal justru akan memunculkan kesegaran,” ujarnya sambil mencontohkan frasa “bayi hujan menggelepar” yang lahir dari praktik peserta.
Lebih jauh, Yohan menyarankan penggunaan personifikasi yang mustahil untuk menghidupkan benda mati secara radikal, seperti dalam karya Zen Hae, “Matahari digodam suara adzan”.
Menurutnya, puisi yang kuat sering kali lahir dari penggunaan kata kerja yang kasar dan tak terduga, bukan kata kerja puitis yang halus. Ia mencontohkan frasa seperti hujan menyalak atau malam membadik sebagai cara untuk memunculkan fantasi yang liar.

Strategi lainnya terletak pada perumusan judul. Yohan menekankan bahwa judul bukanlah sekadar label, melainkan kunci strategis untuk membuka makna tersembunyi dalam puisi.
Ketua Pelaksana MTN Seni Budaya Lokus Malang, Denny Misharudin, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai sistem pembinaan berjenjang yang berkelanjutan.
“MTN bukan sekadar program satu kali jalan, tapi sebuah sistem untuk memastikan talenta Indonesia siap bersaing dan relevan dengan perkembangan global,” ungkap Denny.
Hal tersebut diperkuat oleh Aan Mansyur, salah satu tim MTN Nasional. Aan menjelaskan bahwa MTN membuka jalur bagi talenta muda yang kesulitan menemukan ruang untuk berkembang “Malang dipilih karena menjadi salah satu kota dengan ekosistem sastra yang hidup,” kata Aan.
Lokakarya diakhiri dengan sesi praktik di mana peserta ditantang menulis puisi bertema Elan (semangat atau gairah). Sesi ini membuktikan bahwa dengan teknik yang tepat, para penulis muda mampu menghasilkan karya yang jauh dari monoton, sejalan dengan pesan utama lokakarya bahwa menulis puisi adalah sebuah kerajinan berpikir yang serius. (dan/kun)






