Blitar (beritajatim.com) – Sebanyak 11 pedagang yang selama ini berjualan di area Stasiun Garum Kabupaten Blitar terpaksa angkat dagangan. Mereka harus pergi dari lokasi jualannya sebagai imbas dari rencana renovasi Stasiun Garum.
11 pedagang yang tergusur itu pun akan menerima kompensasi sewa kios dari PT KAI. Sementara untuk relokasi yang sebelumnya menjadi tanda tanya, sekarang tampaknya sudah menemukan titik terang.
Camat Garum Kabupaten Blitar, Frazao Castello menegaskan bahwa nantinya PT KAI tetap akan membangunkan lapak kios bagi pedagang. Sehingga mereka bisa kembali berjualan di lokasi yang sudah ditata ulang.
“Itu nanti kan dibangun terus dibuatkan kios sama PT KAI, rencananya seperti itu,” ucap Castello pada Senin (22/9/2025).
Frazao Castello menegaskan bahwa pihaknya dan PT KAI telah berkoordinasi soal nasib 11 pedagang yang tergusur tersebut. Pihaknya akan sepenuhnya mengakomodir keinginan pedagang perihal kios.
“Kan cuma memang dikasih ganti rugi pembongkaran nanti kedepannya baru dikasih kios lagi kalau sudah jadi, jadi mereka (para pedagang) ini tidak dibuang begitu saja,” tegasnya.
Sebelumnya PT KAI Daop 7 Madiun berencana untuk melakukan renovasi Stasiun Garum Kabupaten Blitar. Jika sesuai rencana akhir September ini pembersihan dan pembongkaran lapak pedagang akan mulai dilakukan.
PT KAI Daop 7 Madiun pun sebenarnya tidak tinggal diam. Pihaknya akan memberikan kompensasi berupa uang yang akan ditransfer ke 11 pedagang terdampak. Namun kompensasi ini sebatas pengembalian kontrak sewa.
“Warga yang terdampak ini statusnya sebatas hak sewa dan kebanyakan berupa kios. Kalau ada pengembalian kontrak sewa, maka akan diberikan kompensasi,” ujar Rokhmad Makin Zainul, Manajer Humas Daop 7 Madiun, Sabtu (20/9/2025).
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 7 Madiun memastikan rencana penataan ulang ini didasari oleh lonjakan penumpang yang signifikan. Data menunjukkan tren positif sejak tahun 2022, dengan 60 ribu penumpang, melonjak menjadi lebih dari 85 ribu pada 2023, dan diperkirakan mencapai 94 ribu penumpang di tahun 2024. Hingga Agustus tahun ini saja, angka penumpang sudah menembus 60 ribu.
Lonjakan ini tak lepas dari posisi strategis Stasiun Garum sebagai gerbang menuju berbagai destinasi wisata andalan seperti Blitar Park, Istana Sakura, hingga akses alternatif ke Candi Penataran dan jalur pendakian Gunung Kelud.
Meski demikian, proyek yang digadang-gadang akan membawa dampak ekonomi positif ini menyisakan kesedihan bagi 11 penyewa kios. Pertemuan antara PT KAI, pihak Kecamatan Garum, dan warga terdampak telah digelar pada Senin (15/9/2025). Hasilnya, pengosongan lahan tak terhindarkan.
“Dana akan ditransfer ke rekening masing-masing sesuai besaran masa sewa yang belum termanfaatkan,” imbuhnya. [owi/beq]






