Pamekasan (beritajatim.com) – Lonjakan kasus campak di Kabupaten Pamekasan terus menjadi perhatian serius setelah Dinas Kesehatan mencatat 520 kasus dengan kategori suspek. Dari jumlah tersebut, sebanyak 177 orang dinyatakan positif campak, bahkan lima pasien di antaranya meninggal dunia, termasuk satu pasien dengan status suspek.
Bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman, menegaskan perlunya langkah cepat dan terukur dalam menekan angka kasus. Salah satunya melalui Surat Edaran (SE) tentang kewaspadaan terhadap campak yang mewajibkan seluruh pihak meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya imunisasi, pola hidup bersih dan sehat, serta penanganan medis secara cepat dan tepat.
Hal itu disampaikan Bupati dalam rapat koordinasi penanggulangan kasus campak bersama perwakilan United Nations Children’s Fund (UNICEF) Indonesia Wilayah Jawa Timur di Mandhapa Aghung Ronggosukowati, Kamis (11/9/2025).
“Dengan adanya kasus ini, kami menekankan agar fasilitas kesehatan, baik Puskesmas maupun rumah sakit, negeri maupun swasta, memberikan pelayanan optimal sehingga kasus campak dapat ditekan dan tidak lagi menambah angka pasien meninggal dunia,” kata KH Kholilurrahman.
Ia menegaskan kolaborasi lintas sektor menjadi poin penting dalam penanganan wabah campak karena persoalan kesehatan berdampak luas pada sektor ekonomi hingga pendidikan. “Masalah kesehatan tidak hanya dipandang sebagai urusan medis semata, tetapi juga berdampak pada sektor lain,” tegasnya.
Bupati juga meminta para camat aktif berkoordinasi dengan Forkopimda dan Forkopimcam untuk memastikan cakupan imunisasi merata di wilayah masing-masing.
Sejauh ini, Dinas Kesehatan Pamekasan telah melaksanakan program imunisasi massal bagi 5.016 anak berusia 9 hingga 59 bulan. Program tersebut diprioritaskan di wilayah dengan temuan kasus terbanyak dan sudah berlangsung sejak 20 Agustus 2025. Langkah itu didukung distribusi 650 vial vaksin campak dari Pemprov Jawa Timur, dengan alokasi satu vial untuk satu anak. [pin/beq]






