Blitar (beritajatim.com) – Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tulungrejo, Kabupaten Blitar. Kegiatan yang digelar di Balai Desa Tulungrejo ini melibatkan Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) yang terdiri dari ketua RW dan RT, serta dihadiri ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan aparatur desa dengan total 25 peserta.
Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang rutin dilakukan dosen Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UB. Tim pengabdian kali ini terdiri dari tiga dosen, yakni Restu Karlina Rahayu, S.IP., M.Si., Ph.D, Mayuko Galuh Mahardika, S.IP., M.IP, dan Tia Subekti, S.IP., M.IP. Selain itu, lima mahasiswa semester tujuh turut dilibatkan, yakni Krisna Bagus Ardiantoro, Nadia Muslimatul Ummah, Amanda Putri Prasetya, Alpha Raphael Ariawan, dan Dave Nadiv Bawono.
Kegiatan tahun ini mengangkat tema pelayanan prima sebagai respons atas masih adanya keluhan masyarakat terkait kualitas layanan di tingkat desa. Hal ini sejalan dengan upaya Desa Tulungrejo yang tengah mengembangkan diri menjadi desa wisata dengan potensi unggulan seperti trek pendakian Gunung Kelud, Hutan Pinus Loji, dan Gunung Kawi. Aparatur desa, BPD, serta LKD diharapkan mampu memberikan pelayanan yang baik, tidak hanya bagi warga setempat, tetapi juga untuk calon investor, wisatawan, dan pelaku usaha pendukung pariwisata.
“Tema pelayanan prima kami pilih karena banyak keluhan dari masyarakat soal layanan di level desa yang masih belum optimal. Dengan pelatihan ini, kami ingin membantu meningkatkan kapasitas aparatur desa, BPD, dan lembaga kemasyarakatan agar bisa memberikan pelayanan yang lebih baik,” ujar Restu Karlina Rahayu, dosen FISIP UB sekaligus ketua tim pengabdian.
Pelatihan dibagi dalam tiga sesi, yaitu pre-test, penyampaian materi, dan post-test. Pada sesi materi, dosen FISIP UB membawakan topik tentang urgensi pelayanan prima dan implementasinya di level lembaga kemasyarakatan desa. Peserta juga diberi kesempatan berdiskusi dan bertanya langsung kepada pemateri.
Berdasarkan hasil evaluasi, terjadi peningkatan pemahaman peserta sebesar 9 persen. Jika pada pre-test rata-rata jawaban benar berada di angka 65 persen, maka pada post-test naik menjadi 74 persen. Peserta pelatihan menunjukkan antusiasme tinggi dan memberikan respons positif terhadap kegiatan ini.
Kerja sama antara perguruan tinggi dengan LKD, BPD, dan aparatur desa dinilai sebagai langkah penting yang masih jarang dilakukan. Aparatur Desa Tulungrejo mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kapasitas layanan publik di tingkat desa. [beq]






