Banyuwangi (beritajatim.com) – Penyanyi musik reggae Ferdinandus Juventinus Bredjon kini pulang kampung ke Banyuwangi. Pria yang memiliki nama beken Fredi Kayaman itu sudah 3 tahun menetap di Bumi Blambangan.
Bersama sang istri, pria yang hits lewat tembang Lovina itu merasa nyaman dengan suasana desa yang tenang dan sejuk selama tinggal di Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro.
Fredi Kayaman adalah salah satu penyanyi reggae yang sudah tampil melalang buana di Tanah Air. Di lingkup kalangan reggae, namanya cukup melejit.
Sebelumnya, Fredi kerap tampil di festival-festival musik reggae. Bahkam hingga kini, dia mencetak delapan album dengan beberapa lagu terkenal seperti Ale Hitam, dan Sayap yang Patah.
Selain di dalam negeri, Fredi juga memiliki penggemar di mancanegara. Terutama warga Indonesia yang tinggal di sana. Bahkan, pada awal Agustus lalu, ia diundang untuk tampil dalam acara yang digelar oleh warga negara Indonesia di Jepang.
Sejak awal berkarya sebagai musisi reggae tahun 1992, Fredi lebih banyak tinggal di Bali. Ia pernah menetap di Singaraja dan Kuta. Dia mengaku, di sana musik rege banyak diminati. Terutama oleh bule-bule yang berwisata.
Fredi pulang ke Banyuwangi pada 2022, saat sang ibu sakit. Bersama sang istri Angela Mericy, Fredi pulang untuk menemani sang ibu hingga sang ibu meninggal.
“Ibu saya memang aslinya Kelir. Saat masih di Bali, saya juga pulang ke Banyuwangi. Tapi tidak untuk menetap lama,” kata dia.
Bagi Fredi, Banyuwangi adalah tempat yang nyaman. Suasana tenang khas pedesaan. Berada di daerah lereng perbukitan dan dekat perkebunan kopi, hawa dingin saat malam hari menambah rasa syahdu.
Namun ada satu persoalan. Pencinta musik rege di Banyuwangi hanya kalangan terbatas. Itu membuat Fredi sempat kesulitan menyalurkan jiwa seninya.
“Kesusahan awal-awal. Tapi teman-teman komunitas banyak yang membantu,” ucap dia.
Pesatnya teknologi juga turut membantu. Dibantu sang istri, pria kelahiran 1961 itu mulai giat bermusik lewat media sosial. Seperti YouTube, Instagram, dan TikTok.
“Paling tidak seminggu (bikin konten) dua kali. Selain lagu, (juga membahas hal-hal) yang tak jauh dari musik,” imbuh dia.
Selain itu, ia juga masih menerima undangan-undangan untuk tampil manggung. Baik di Banyuwangi maupun luar kota.
“Saya kalau diundang, berangkat naik motor. Selama ini sudah habis empat motor. Ini motor yang terakhir,” katanya, sembari menunjuk Honda Supra X keluaran model baru yang terparkir di rumahnya.
Salah satu keinginan Fredi saat ini adalah menghidupkan musik rege di Banyuwangi. Hal tersebut dimulai dengan langkah kecil. Didukung oleh aparatur desa setempat, Fredi berencana mengenalkan rege dengan menggelar pertunjukan-pertunjukan mini.
“Saya sekarang juga sedang menyiapkan album baru. Sekarang baru ada tiga lagu. Masih kurang beberapa lagi,” ujarnya. (tar/but)






