Bojonegoro (beritajatim.com) – Di puncak musim panen raya, bukannya bersuka cita, para petani cabai di Kabupaten Bojonegoro justru harus menghadapi kenyataan pahit. Harga jual komoditas anjlok secara drastis hingga para petani mengalami kerugian jutaan rupiah.
Harga cabai merah besar di tingkat petani kini hanya menyentuh angka Rp13.000 per kilogram. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan dengan harga pada musim panen sebelumnya yang mampu mencapai puncaknya di Rp36.000 per kilogram.
Salah seorang petani di Desa Tambahrejo, Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro Mashuri, mengaku tidak memahami pasti apa penyebab merosotnya harga cabai pada periode ini. Merosotnya harga cabai itu berangsur-angsur sejak beberapa minggu lalu. “Harganya terus merosot ketika kami memasuki pemetikan kelima, yang seharusnya adalah puncak panen,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).
Mashuri menambahkan, jika dibanding anjloknya harga, kualitas dan kuantitas panen musim ini justru tergolong sangat baik. Serangan hama minimal dan buah cabai yang dihasilkan tidak mudah rontok atau busuk. Dari lahan berkapasitas 2.000 bibit, Mashuri dan petani lain bisa memanen rata-rata 1,5 kuintal cabai kualitas terbaik dalam sekali petik. “Kami rasakan sekarang cuma keluhan karena kerugian yang harus ditanggung sangat besar,” ujar Mashuri, dengan nada prihatin.
Rendahnya harga jual membuat semua usaha yang telah dikeluarkan, mulai dari pembelian benih, pupuk, hingga biaya perawatan selama masa tanam, sulit untuk kembali. Kekhawatiran terbesar para petani adalah kondisi ini akan berlanjut dalam waktu yang lama, mengikis semua modal dan tenaga yang telah mereka curahkan.
Atas dasar itu, para petani berharap pemerintah dapat turun tangan untuk menstabilkan harga. Harapan mereka tidak muluk-muluk; harga cabai merah besar bisa bertahan setidaknya di kisaran Rp25.000 per kilogram agar para petani tidak semakin terpuruk dan bisa terus melanjutkan roda pertanian di masa yang akan datang.
Sementara salah seorang penjual bahan kebutuhan dapur di Pasar Tradisional Bojonegoro Yuni mengungkapkan hal sama dengan para petani. Penurunan harga cabai ini sudah terjadi sejak Juli dan berlanjut hingga Agustus 2025. “Selain harga turun, pembeli juga sepi belakangan,” ungkapnya. [lus/kun]






