Bondowoso (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bondowoso mencatat tren peningkatan kasus leptospirosis sejak awal 2025 hingga Agustus. Sebanyak 16 kasus terdeteksi, dengan tiga pasien di antaranya meninggal dunia. Kasus terbaru terjadi di Desa Besuk, Kecamatan Klabang, namun pasien telah dinyatakan sembuh.
Plt Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Bondowoso, dr. Titik Erna Erawati, menjelaskan bahwa leptospirosis ditularkan melalui bakteri Leptospira yang banyak ditemukan pada ginjal tikus, lalu keluar bersama air kencingnya. Penyakit ini kerap menyerang warga usia produktif, terutama petani, serta masyarakat yang sering berkontak dengan lingkungan berair.
“Gejalanya mirip DBD atau typoid, awalnya demam. Bedanya pada leptospirosis, ada bintik merah pada mata, kadang memerah hingga menguning, serta nyeri hebat di betis,” ungkapnya pada beritajatim.com, Rabu (27/8/2025).
Menurutnya, penularan di Bondowoso kerap terjadi bukan karena banjir besar, melainkan akibat genangan air yang terkontaminasi kencing tikus. Jika mengenai kulit yang terluka, bakteri bisa masuk dan menginfeksi tubuh. Kondisi ini membuat petani maupun petugas di TPS/TPA berisiko tinggi.
Dari 16 kasus tahun ini, tiga pasien meninggal akibat gagal ginjal karena terlambat ditangani. Salah satu pasien bahkan baru datang ke fasilitas kesehatan setelah seminggu sakit, ketika kondisinya sudah parah.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes bersama Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya melakukan trapping tikus di area sawah dan rumah pasien. Tikus yang terperangkap dibedah untuk diperiksa ginjalnya. Jika terbukti positif Leptospira, berarti kencingnya berpotensi menularkan penyakit.
Untuk pencegahan, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menutup luka saat ke sawah, serta menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu boot. “Selain itu, air minum harus direbus terlebih dahulu, karena hasil pemeriksaan kami ada beberapa sumber air di desa yang positif tercemar,” jelas Titik.
Catatan Dinkes menunjukkan tren peningkatan signifikan kasus leptospirosis di Bondowoso. Tahun 2023 hanya ada satu kasus yang berujung kematian, tahun 2024 tercatat 11 kasus tanpa korban meninggal, sementara 2025 hingga Agustus melonjak menjadi 16 kasus dengan tiga kematian.
“Harapan kami masyarakat lebih waspada. Jaga kebersihan rumah dari tikus, buang sampah dengan benar, biasakan cuci tangan dan kaki setelah kontak air. Jangan lupa makan bergizi dan istirahat cukup,” imbaunya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah rumah tangga. “Jangan biarkan sampah mengendap di dalam rumah. Selalu buang setiap hari. Sebab sampah menumpuk akan memicu datangnya tikus,” tambahnya. [awi/beq]






