Surabaya (beritajatim.com) – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menyatakan bahwa gagasan pembentukan Koperasi Kelurahan/Desa Merah Putih merupakan inisiatif yang luar biasa dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Gagasan ini bertujuan untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan secara menyeluruh.
Zulhas memaparkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia setelah reformasi 1998 dinilai terlalu melompat jauh (liberal). Ia mengibaratkan kondisi ini membuat perusahaan-perusahaan besar bebas berekspansi hingga ke tingkat desa, sehingga usaha kecil milik rakyat seringkali tidak berdaya dan terpaksa tunduk pada persaingan.
Kondisi tersebut ia bandingkan dengan era pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Menurut Zulhas, saat itu perusahaan-perusahaan besar dilarang untuk beroperasi hingga ke tingkat kecamatan dan desa guna melindungi serta memberdayakan ekonomi rakyat di tingkat bawah.
“Jadi saudara-saudara memang kita ini sudah terlalu jauh selama 28 tahun reformasi. Dulu zaman pak harto itu diatur, pengusaha besar tidak boleh masuk sampai kecamatan-desa, tidak boleh. Sehingga petani masih punya sawah, punya kebun dulu,” kata Zulhas saat meninjau Koperasi Kelurahan Merah Putih di Jambangan, Surabaya, Kamis (21/8/2025).

Oleh karena itu, dengan dibentuknya Koperasi Kelurahan/Desa Merah Putih diharapkan dapat mengembalikan kondisi ideal, di mana kelurahan dan desa kembali memiliki daya saing. Dengan demikian, ekonomi rakyat dapat bangkit dan tidak lagi tertekan oleh dominasi pasar dari perusahaan besar.
“Pengusaha-pengusaha besar tidak boleh masuk di ternak; ayam, kambing, sapi, tidak boleh, itu usahanya rakyat. Maka dulu ibu kita buka warung piara kambing, piara sapi, piara ayam, piara bebek. Pagi-pagi mungut telur dibawa ke pasar. Maka (kita) bisa sekolah pak, gara-gara jualan telur sama buka warung,” jelas Zulhas.
“Nah reformasinya bebas semuanya, bebas, ya kan. Sehingga bisa satu perusahaan itu bisa dia tanam lahannya dia kuasai. Nanamnya dia, panennya dia, diolah pabriknya dia, industrinya dia. Sampai warungnya pun dia juga. Betul kan?. Tapi kita kan tidak boleh marah karena marah-marah saja tidak menyelesaikan persoalan. Kita harus melakukan sesuatu agar Indonesia itu seperti yang kita cita-citakan. Apa itu?, ekonomi pancasila, gotong royong, kekeluargaan, kebersamaan,” imbuhnya.
Zulhas juga meminta masyarakat dan pemuda-pemudi desa/kelurahan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan Presiden Prabowo secara tegas berani menyatakan negara menjalankan Pasal 33 UUD 1945, di mana perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan, dengan target pertumbuhan ekonomi 8% di Indonesia.
“Jadi saya senang, kami ini garis keras, kami bangga. Kita punya Presiden Prabowo Sudianto namanya. Yang berani pasal 33 itu dijalankan. Ini mumpung, mumpung ada presiden yang nyalinya ini waduh (luar biasa). Karena dia ini kan pengalaman lama, udah lama pengalamannya, pengalaman orde baru, pengalaman orang tua beliau penduduk zaman kemerdekaan, pengalaman reformasi, melihat semuanya,” urainya.
Dari situ, diharapkan Koperasi Kelurahan dan Desa Merah Putih dapat berkembang baik, tidak hanya untuk mengakomodasi kebutuhan simpan pinjam, tetapi juga untuk mengangkat potensi lokal berbasis ekonomi kerakyatan, yang akan menjadi jembatan kesejahteraan bagi masyarakat.
“Koperasi itu intinya adalah pemberdayaan. Anak-anak muda diberdayakan sehingga dia kuat dia kreatif, dia produktif, dia bisa usaha, menampung orang kerja, bisa mengembangkan lingkungan. Di sini (kelurahan) menjadi pusat kegiatan ekonomi,” pungkas Zulhas.
Untuk diketahui, dalam kunjungan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan di Koperasi Kelurahan Merah Putih di Surabaya bari ini didampingi oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya, Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) Ahmad Riza Patria, Sekertaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono, serta Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. [ram/but]






