Surabaya (beritajatim.com) – Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Prof. Achmad Jazidie menegaskan tantangan guru di era digital bukan sekadar menguasai materi ajar. Tapi, dituntut menanamkan empati, kepedulian, dan kemampuan berkolaborasi agar generasi muda tidak kehilangan karakter di tengah derasnya arus teknologi.
Pesan itu ia sampaikan dalam Yudisium dan Sumpah Profesi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Gelombang 2 Tahun 2024 di Auditorium Tower Kampus B Jemursari, Kamis (21/8/2025). Sebanyak 136 calon guru resmi diambil sumpah profesinya dalam kegiatan yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unusa itu.
“AI memang mampu menghadirkan pengetahuan dengan cepat dan mudah, tetapi AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam berinovasi, berempati, dan membangun karakter,” ujar Prof. Jazidie.
Menurutnya, guru tidak boleh menyalahkan murid atas perubahan zaman, melainkan harus mampu menerima kondisi tersebut dan mengarahkannya dengan tepat.
Ia menambahkan, tantangan terbesar guru saat ini adalah bagaimana mendidik murid agar terbiasa berempati, mudah memberi pertolongan, serta mampu bekerja sama dengan orang lain. Nilai-nilai inilah yang harus ditanamkan sejak dini agar perkembangan teknologi digital justru memperkuat kualitas generasi penerus bangsa.
Unusa sendiri menyelenggarakan dua jalur PPG, yaitu PPG Prajabatan untuk lulusan S1/D4 yang belum mengajar, serta PPG Dalam Jabatan bagi guru aktif yang belum tersertifikasi. Program ini membekali peserta tidak hanya keterampilan mengajar, tetapi juga kepemimpinan, etika profesi, dan tanggung jawab sebagai pendidik.
Dengan bekal tersebut, Prof. Jazidie berharap lulusan PPG Unusa mampu menjadi guru yang relevan dengan kebutuhan zaman. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga teladan yang membentuk karakter anak bangsa. [ipl/kun]






