Bojonegoro (beritajatim.com) – Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 36 Bojonegoro resmi membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi 100 siswa baru pada tahun ajaran ini. Jumlah tersebut terdiri dari 44 siswa laki-laki dan 56 perempuan yang berasal dari 25 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro.
Kehadiran SRMA 36 ini menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dalam mendukung program pemerataan pendidikan berbasis asrama yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.
Plt Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Bojonegoro, Agus Susetyo Hardiyanto, menyampaikan bahwa SRMA 36 Bojonegoro tidak hanya fokus pada pendidikan akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa melalui kedisiplinan dan tanggung jawab.
“Program ini dirancang untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila, keterampilan hidup mandiri, serta daya saing yang tinggi agar siswa dapat berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya.
Pembukaan MPLS ini dilakukan oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah. Dalam arahannya, Nurul Azizah menegaskan bahwa SRMA 36 Bojonegoro merupakan langkah strategis dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah. Berdasarkan data, saat ini masih terdapat 5.143 anak usia sekolah yang belum atau tidak bersekolah.
“Alhamdulillah, hari ini 100 anak telah mendapat fasilitas sekolah dan asrama gratis. Ini adalah pilihan luar biasa bagi mereka,” ungkapnya.
Nurul Azizah juga menekankan bahwa SRMA 36 Bojonegoro adalah sekolah mewah, yang mengutamakan kedisiplinan dan pembentukan karakter. “Gedungnya saja seperti sekolah taruna di Magelang, tetapi ini adalah sekolah pilihan yang semuanya gratis,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan para siswa untuk memanfaatkan kesempatan ini sebagai “kawah candradimuka” dalam membentuk pribadi yang sukses. “Dua menteri dari Bojonegoro, Pratikno dan Faisol Hanif, memulai karier mereka dari bawah. Begitu pula dengan kalian. Ini adalah waktu untuk membentuk diri menjadi pribadi yang berkarakter,” pesannya.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa 11,69% penduduk Bojonegoro, atau setara dengan 147.330 jiwa (54.000 KK), masih berada dalam kategori miskin. Data ini diperoleh melalui survei dan rembuk di tingkat RT, RW, hingga desa, yang kemudian dihimpun dalam sistem Data Kemiskinan Daerah (Damisda).
Keberadaan SRMA 36 Bojonegoro diharapkan dapat menjadi solusi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan berkualitas tanpa terbebani biaya. Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengurangi angka putus sekolah dan meningkatkan kualitas SDM di Bojonegoro.
Dengan dukungan penuh dari Pemkab Bojonegoro, SRMA 36 Bojonegoro diharapkan dapat mencetak generasi muda yang berkarakter, mandiri, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa. [lus/beq]






