Jakarta (beritajatim.com) – Lima bulan terakhir, pasar obligasi Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat meski dihantam dinamika tarif perdagangan global.
Syuhada Arief, Senior Portfolio Manager – Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), menilai sentimen positif tetap mendominasi, terutama setelah kepastian tarif perdagangan Amerika Serikat diumumkan awal Agustus.
“Pasar tidak suka ketidakpastian. Saat tarif final diumumkan, postur perdagangan dunia jadi lebih jelas. Besaran tarif juga tidak setinggi prediksi awal April, sehingga pasar merespons lebih tenang,” ungkap Syuhada.
Tarif Global dan Dampaknya pada Ekonomi Dunia
Kenaikan tarif perdagangan AS dari kisaran 2% di akhir 2024 menjadi sekitar 18% per Agustus 2025 tetap memberi tekanan pada perekonomian global. “IMF memangkas proyeksi pertumbuhan dunia 2025 menjadi 3,0% dari 3,3% pada Januari. Namun, ini masih lebih baik dibanding revisi April sebesar 2,8%,” jelasnya.
Menurut Syuhada, faktor pendukungnya adalah ekspansi fiskal di banyak negara dan pelemahan nilai tukar dolar AS yang membantu meredakan tekanan pasar keuangan.
Efek ke Ekonomi AS, Inflasi, dan Fed Funds Rate
Syuhada menekankan bahwa tarif pada dasarnya adalah pajak impor yang dapat memicu inflasi. Namun, di paruh pertama 2025, lonjakan harga belum terlalu terasa berkat strategi frontloading oleh importir AS.
“Pertumbuhan konsumsi dan investasi korporasi di AS melandai ke 1,2%, terendah sejak kuartal IV 2022. Data tenaga kerja juga melemah dengan penambahan rata-rata 35 ribu pekerjaan per bulan,” katanya.
Kondisi ini, lanjut Syuhada, memberi ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga acuan satu hingga dua kali sampai akhir 2025. “Pelemahan ekonomi jauh lebih krusial untuk ditangani dibanding risiko inflasi sementara,” tegasnya.
Tarif untuk Indonesia dan Kesepakatan Dagang
Indonesia berhasil menurunkan tarif ekspor ke AS dari 32% menjadi 19%, ditambah komitmen pembelian produk energi senilai USD15 miliar, produk pertanian USD4,5 miliar, dan 50 unit pesawat terbang.
“Tarif ini memang naik dari 10% tahun lalu, tapi tetap salah satu yang terendah di ASEAN. Peluang ekspor bisa meningkat jika kualitas, regulasi, dan logistik kita dibenahi,” ujar Syuhada.

Ia menilai pembelian energi dan pertanian tidak memberatkan karena sebagian besar bisa dialihkan dari negara pemasok lain. Sementara pembelian pesawat adalah komitmen jangka panjang.
Syuhada juga menyoroti kesepakatan IEU-CEPA yang menghapus tarif ±98% ekspor Indonesia ke Uni Eropa. “Ini bisa tingkatkan ekspor ke Uni Eropa hingga 50% dalam 3–4 tahun dan ciptakan 500 ribu lapangan kerja,” katanya.
Potensi Penurunan BI Rate dan Prospek Obligasi
Dengan pertumbuhan PDB kuartal II 2025 mencapai 5,12% YoY, Syuhada memprediksi BI tetap pada kebijakan pro-pertumbuhan. “Penurunan BI Rate ke 5,0% di akhir tahun masih terbuka, apalagi inflasi terjaga dan rupiah stabil,” jelasnya.
Menurutnya, faktor global seperti pelemahan dolar AS, potensi penurunan FFR, dan komitmen fiskal pemerintah (<3% defisit PDB) akan terus menopang pasar obligasi hingga akhir tahun. “Outlook pasar obligasi sampai Desember tetap positif,” ujarnya.
Strategi Portofolio Obligasi MAMI
Syuhada mengungkapkan pihaknya kini fokus pada obligasi tenor pendek hingga menengah. “Kami menambah porsi obligasi korporasi berkualitas dengan imbal hasil premium. Analisis risiko kami lakukan secara mandiri, termasuk risiko kredit, likuiditas, dan kompatibilitas terhadap obligasi sejenis,” paparnya.
Dengan strategi ini, Syuhada optimistis pasar obligasi Indonesia masih punya “napas panjang” hingga paruh kedua 2025 dan bahkan ke 2026. (ted)






