Lumajang (beritajatim.com) – Teror pencurian sepeda motor yang menimpa mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) di Lumajang membuat Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember melakukan evaluasi serius terkait penempatan lokasi mahasiswa. Pihak kampus bahkan mempertimbangkan untuk tidak lagi menempatkan mahasiswa KKN di daerah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Pemicu evaluasi ini adalah aksi pencurian dua sepeda motor milik mahasiswa KKN yang terjadi di Kantor Desa Alun-alun, Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang, Rabu (6/8/2025) dini hari. Peristiwa tersebut menimpa salah satu mahasiswa UIN KHAS Jember bernama Ika Wahyu yang harus kehilangan sepeda motor karena dicuri. Selain itu, terdapat satu motor lagi yang hilang milik Thoriq, mahasiswa Universitas Jember (Unej).
Akibat insiden itu, kedua kampus ternama di Kabupaten Jember ini memutuskan untuk menarik sebanyak 12 mahasiswa mereka yang sedang melakukan KKN Kolaboratif di Desa Alun-alun. Saat kejadian, Kantor Desa Alun-alun menjadi posko KKN bagi 12 mahasiswa dari Unej dan UIN KHAS Jember.
Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UIN KHAS Jember, Zaini, mengatakan proses evaluasi serius terkait program KKN di wilayah Kabupaten Lumajang sedang dilakukan. Ia mengakui, UIN KHAS Jember juga sedang mempertimbangkan untuk tidak lagi melakukan program KKN mahasiswa di Lumajang.
Keputusan itu, lanjut Zaini, bakal tetap diambil meskipun nanti bakal ada jaminan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang terkait keamanan mahasiswa yang melakukan KKN. Sebab, pada bulan Oktober 2025 mendatang, UIN KHAS Jember akan kembali melaksanakan program KKN.
“Jadi, kami sedang pertimbangkan untuk KKN di Jember saja, tidak ke luar kota, alasannya keamanan mahasiswa kami, meskipun nanti ada jaminan dari lokasi KKN terkait keamanan, kami akan pertimbangkan dulu,” terang Zaini, Jumat (8/8/2025).
Menurutnya, peristiwa pencurian yang menimpa mahasiswa mereka cukup disayangkan. Terlebih, aksi pencurian itu terjadi di kantor desa yang seharusnya menjadi tempat berlindung warga.
Selain itu, Zaini mengaku, sebelum mengirim mahasiswa KKN ke Lumajang, pihak kampus sudah meminta lokasi yang aman dan nyaman kepada pemerintah daerah.
“Ini kemarin kita sudah minta lokasi yang aman ke pemerintah, kami sudah wanti-wanti, makanya sekarang kami akan pertimbangkan dan koordinasi lagi. Kalau kemarin imbauan dari rektor sebaiknya KKN di Jember saja,” ungkapnya. [has/beq]






