Surabaya (beritajatim.com) – Bagi Eduardo Perez, pelatih kepala Persebaya Surabaya, Indonesia tak lagi terasa asing. Bahkan, pria asal Spanyol ini menyebut Tanah Air, khususnya Surabaya, sebagai rumah keduanya.
Sejak kembali melatih Persebaya, Edu—sapaan akrabnya—tidak hanya fokus pada strategi dan peningkatan performa tim.
Ia juga membuka diri untuk menyelami budaya Indonesia, termasuk mulai mempelajari Bahasa Indonesia secara intensif selama satu bulan terakhir.
“Saya perlu mulai berbicara Bahasa Indonesia. Saya berjanji sedikit-sedikit berbicara bahasa secara langsung dalam waktu secepatnya,” ujar Edu usai sesi latihan, Selasa (5/8/2025).
Komitmen itu bukan sekadar isapan jempol. Edu menyadari bahwa komunikasi yang efektif dengan pemain lokal menjadi kunci utama membangun chemistry tim. Karena itu, ia menargetkan untuk berlatih berbicara Bahasa Indonesia minimal satu jam setiap hari.
“Tujuan saya adalah mencoba setidaknya satu jam per hari untuk berbicara Bahasa Indonesia,” tambahnya.
Namun adaptasi Edu tidak berhenti di lapangan. Ia juga tertarik dengan kehidupan masyarakat Surabaya, mulai dari budaya lokal hingga kekayaan kuliner yang menggoda selera. Keramahan warga Kota Pahlawan menjadi kesan pertama yang membuatnya betah tinggal.
“Sejak hari pertama, orang-orangnya sangat baik pada saya. Saya merasa disambut dengan sangat hangat,” tuturnya.
Salah satu pengalaman yang membekas adalah saat mencicipi kuliner khas Surabaya. Rawon, sup hitam khas Jawa Timur, menjadi makanan pertama yang ia santap, dan langsung membuatnya jatuh hati.
“Saya makan rawon, dan semua makanan khasnya. Saya sangat suka makanan Indonesia, terutama makanan Surabaya,” ungkap Edu dengan antusias.
Bagi pelatih berpengalaman ini, menikmati kehidupan di luar lapangan adalah bagian dari proses adaptasi dan pengayaan diri. Dengan semangat belajar dan keterbukaan terhadap budaya lokal, ia yakin bisa memberi kontribusi lebih besar bagi Persebaya dan sepak bola Indonesia.
“Saya ingin mendapatkan pengalaman yang lebih baik, dan saya akan menikmati Surabaya tentunya,” pungkasnya. (ted)






