Ponorogo (beritajatim.com) – Telaga Ngebel, merupakan wisata alam Kabupaten Ponorogo. Objek wisata andalan Bumi Reog itu pun, bersiap menampilkan wajah baru. Namun bukan pada telaganya semata. Tiga desa penyangga di sekitarnya, kini tengah dibina agar mampu menjadi pintu gerbang pengalaman wisata yang lebih utuh dan bermakna bagi pengunjung.
Langkah ini menjadi bagian dari terobosan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo. Bekerja sama dengan Desa Wisata Institute dari Yogyakarta, mereka mengembangkan potensi tersembunyi yang selama ini belum tersentuh maksimal, yakni desa wisata.
“Kami tidak ingin wisatawan hanya berhenti di telaga saja,” kata Kepala Disbudparpora Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, Jumat (1/8/2025).
Tiga desa yang dimaksud, adalah Desa Gondowido, Desa Pupus, dan Desa Ngebel sendiri. Ketiganya sedang dikemas ulang menjadi bagian dari ekosistem wisata Telaga Ngebel yang saling melengkapi.
“Harapannya wisatawan mau singgah bahkan bermalam untuk menikmati keindahan dan kekayaan budaya desa-desa di sekitarnya,” katanya.
Desa Gondowido, kini mulai dikenal berkat spot Ngambang Tirto Kencono. Dari tempat ini, wisatawan dapat menikmati bentangan Telaga Ngebel dari sudut pandang berbeda, yakni lebih tinggi, lebih eksotis. Tak hanya visual, kekayaan rasa juga disuguhkan lewat kuliner khas desa seperti tiwul, gula aren, dan kopi lokal yang disajikan dalam suasana perdesaan yang hangat.
Berbeda dari Gondowido yang mulai ramai, Desa Pupus menyimpan pesona alam yang masih perawan. Ada Mloko Sewu, Mloko Jajar, hingga Hutan Lindung Sigogor yang sunyi namun menawan. Kawasan ini dianggap sebagai lokasi potensial untuk wisata alam berbasis trekking dan edukasi lingkungan.
“Desa Pupus punya keindahan alam, Mloko Sewu, Mloko Jajar, dan Hutan Lindung Sigogor yang belum sering dijamah,” papar Judha.
Desa Ngebel pun tak mau ketinggalan. Selain sebagai lokasi Telaga Ngebel sendiri, kini desa ini mengusung konsep Ngebel Adventure Park, yang diarahkan untuk wisata minat khusus berbasis petualangan. Mulai dari tracking ringan, camping, hingga kegiatan berbasis komunitas bisa dikembangkan dari sini.
“Kalau desa tidak semangat, usaha dinas tidak akan berarti. Kita harus responsif, harus inovatif,” kata Judha.
Tujuan dari pembinaan ini bukan sekadar menambah daftar destinasi, melainkan membentuk jaringan wisata terintegrasi. Semacam paket pengalaman, di mana wisatawan tak hanya menikmati keindahan alam, tapi juga berinteraksi langsung dengan budaya, kuliner, dan keramahan masyarakat desa. Dengan begitu, durasi tinggal wisatawan meningkat, roda ekonomi desa pun bergerak. Itulah mimpi besar yang sedang dikejar. Yakni menjadikan kawasan Ngebel sebagai wisata berbasis komunitas yang berkelanjutan.
“Kami bermimpi tiga desa ini bisa terintegrasi dalam sebuah program wisata yang layak jual dan menjadi magnet baru bagi pariwisata Ponorogo,” pungkasnya. [end/aje]






