Bondowoso (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus berupaya mengejar ketertinggalan dalam bidang digitalisasi, terutama untuk mendongkrak peringkat dalam Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) yang selama bertahun-tahun bertahan di posisi terbawah.
Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Fasilitasi Peningkatan IMDI Wilayah Bakorwil V Jember yang digelar di Graha Ijen Disparbudpora Bondowoso, Rabu (30/7/2025).
Manajer Sistem Pembayaran Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah (BI KpW) Jember, Mutiara Umami, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam peningkatan literasi dan infrastruktur digital.
“Peningkatan nilai IMDI bukan hanya tugas Diskominfo. Tetapi BI dan seluruh stakeholder harus terlibat aktif. Literasi dan infrastruktur digital adalah kunci,” ujar Mutiara pada BeritaJatim.com.
Ia juga menyebut bahwa realisasi transaksi non-tunai menjadi salah satu komponen penting penilaian IMDI.
Meski kanal pembayaran digital telah tersedia melalui kerja sama dengan Bank Jatim, tingkat penggunaan di masyarakat masih rendah.
Itu turut memengaruhi skor Bondowoso yang hampir selalu menempati peringkat 4 atau 5 dari lima kabupaten di bawah naungan BI Jember.
BI KpW Jember sendiri meliputi wilayah Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso dan Situbondo. “Untuk nilai IMDI tertinggi di BI KpW Jember masih dipegang Banyuwangi,” sebutnya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Bondowoso, Ghozal Rawan, menyatakan bahwa tantangan utama ada pada penyediaan infrastruktur yang merata serta pemberdayaan masyarakat agar mampu memanfaatkan layanan digital.
“Infrastruktur digital kita sudah mulai terbentuk. Sejak 2022 hingga sekarang ada 93 titik jaringan intra pemerintahan. Tapi belum cukup. Edukasi digital juga harus ditingkatkan, karena tidak semua masyarakat punya perangkat memadai atau pemahaman cukup,” jelas Ghozal.
Ia menambahkan, implementasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) melalui Perbup Nomor 15 Tahun 2023 harus diarahkan agar berdampak langsung ke pelayanan publik.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa layanan desa, kesehatan, bahkan administrasi dapat dilakukan secara digital.
Ghozal juga menyinggung bahwa penilaian IMDI bisa saja belum sepenuhnya mencerminkan potensi Bondowoso. Misalnya, saat survei dilakukan, responden yang dipilih mungkin belum akrab dengan transaksi digital.
“Padahal di sisi lain di Bondowoso terdapat komunitas digital, seperti Kampung YouTuber dan pelajar SMK yang aktif di bidang digital marketing,” pungkasnya. [awi/beq]






