Bojonegoro (beritajatim.com) – Langit Desa Kalicilik di Kecamatan Sukosewu Kabupaten Bojonegoro masih cerah saat Parji (52) melangkah perlahan menuju sawah. Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia membawa harapan sederhana. Mengumpulkan rumput untuk pakan ternaknya. Tak ada yang menyangka, hari itu akan menjadi perjalanan terakhirnya.
Warga Dusun Putuk Kidul RT 004 RW 003 itu dikenal sebagai sosok sederhana yang akrab dengan tanah dan tumbuhan. Pagi itu, sekitar pukul 06.45 WIB, ia berjalan kaki menuju pematang sawah—tempat yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Di lokasi itu pula, ia sempat menyapa Suyoto, tetangganya yang sedang memanen jagung tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sapa ramah itu menjadi percakapan terakhir antara mereka. Tak lama berselang, Suyoto sempat memanggil Parji lagi. Tak ada jawaban. Merasa ada yang tidak biasa, ia mendekat dan mendapati Parji sudah tergeletak di pematang sawah, dalam posisi terlentang, tanpa napas, tanpa suara.
Warga sekitar yang diberi tahu segera berdatangan. Pihak Polsek Sukosewu bersama petugas medis dari Puskesmas Sukosewu datang melakukan pemeriksaan. Dari hasil pengecekan medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Parji. Keluarga pun menyampaikan bahwa Parji memiliki riwayat penyakit darah tinggi dan rutin menjalani pengobatan di Puskesmas.
“Korban diduga meninggal karena penyakit darah tinggi yang kambuh secara mendadak,” jelas Kapolsek Sukosewu, AKP Achmad Nurul Hidayat, saat memberikan keterangan resmi, Sabtu (26/7/2025).
Pihak keluarga telah menerima kepergian Parji sebagai musibah. Mereka menolak autopsi dan membuat pernyataan resmi. Jenazah pun langsung dibawa pulang ke rumah duka dan dimakamkan dengan tenang di desa kelahirannya. Parji pergi di tempat yang ia cintai, di antara hijaunya pematang sawah dan langit pagi yang masih hangat. [lus/ian]






