Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim), Aries Agung Paewai, menyoroti makin terkikisnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan pelajar. Ia mendorong para guru untuk menyusun bahan ajar yang lebih menarik dan sesuai dengan karakter generasi Z yang lekat dengan teknologi.
Hal tersebut disampaikan Aries dalam kegiatan Bimbingan Teknis Modul Ajar Bahasa Indonesia dan Sastra yang diikuti oleh 114 guru SMA se-Jawa Timur, Selasa (22/7/2025) malam. Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengajaran bahasa saat ini bukan hanya terletak pada kurikulum, melainkan juga pada perubahan budaya komunikasi siswa akibat digitalisasi dan dominasi media sosial.
“Anak-anak lebih memilih bahasa gaul dan mencampuradukkan dengan bahasa asing. Padahal bahasa adalah alat komunikasi dan bentuk penghormatan atau menghargai lawan bicara,” kata Aries.
Ia mencontohkan Jepang sebagai negara yang berhasil menjaga kemurnian bahasa nasionalnya. Sementara di Indonesia, menurutnya, para pelajar justru lebih bangga menggunakan bahasa luar daripada bahasa sendiri.
Padahal, menurut Aries, bahasa Indonesia telah diakui sebagai salah satu bahasa resmi dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan seharusnya menjadi sumber kebanggaan nasional.
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, bahasa dan sastra memiliki peran penting sebagai bagian dari identitas dan kebudayaan bangsa. Oleh karena itu, Aries menekankan pentingnya peran guru dalam menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan sastra sejak dini.
“Bahasa yang sesuai kosakata akan menjadi kecerdasan murid dan menjadi bagian dari kecerdasan literasi. Sementara peran guru fasilitator, harapannya mampu menaikkan nilai sastra dan bahasa,” ujarnya.
Aries berharap forum ini mampu menghasilkan modul ajar yang tidak hanya relevan dengan perkembangan zaman, tetapi juga mampu menjawab tantangan era digital tanpa kehilangan akar budaya.
“Bahasa Indonesia harus jadi motivasi dan kebanggaan,” pungkasnya. [ipl/beq]






