Bondowoso (beritajatim.com) – Memasuki akhir Juli 2025, petani tembakau di Kabupaten Bondowoso mulai bersiap menyambut musim panen. Seiring dengan itu, permintaan terhadap peralatan off farm, terutama alat rajang tembakau, mengalami peningkatan signifikan di sejumlah wilayah.
Di Desa Kupang, Kecamatan Pakem, Suwito memanfaatkan momentum ini dengan memproduksi alat rajang secara mandiri. Berbekal kemampuan otodidak, ia merakit alat rajang berbahan baja impor asal Cina.
“Saya beli bahan bakunya seperti baja impor dari Cina. Kemudian saya las, ditempa sampai presisi hingga diasah setajam mungkin,” kata Suwito kepada BeritaJatim.com, Senin (21/7/2025).
Ia mengakui bahwa usahanya bersifat musiman dan hanya aktif saat musim panen tembakau tiba. Namun, permintaan tetap tinggi dan menjangkau wilayah di luar kecamatannya.
“Memang khusus untuk usaha tembakau yang sekarang mulai masuk masa panen. Walaupun begitu, hasilnya lumayan. Warga Wringin dan Binakal juga beli ke sini,” ujarnya.
Alat rajang yang dijual Suwito berupa pisau tajam yang dapat dimodifikasi petani menjadi alat rajang manual. Biasanya, pisau tersebut dipasang pada balok kayu lengkap dengan kursi sebagai tempat duduk buruh rajang.
“Saya jual dengan harga Rp 250 ribu sampai Rp 350 ribu per pisaunya. Alhamdulillah, sehari omzet selalu di atas Rp 1,5 juta. Kerja santai,” ungkapnya.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bondowoso, Yasid, membenarkan bahwa sejumlah wilayah mulai memasuki masa panen, khususnya bagi petani yang melakukan penanaman pada Maret hingga April.
“Bagi yang tanam Maret-April, Juli ini sudah masuk panen. Biasanya lahan tadah hujan seperti di wilayah pegunungan,” jelas Yasid.
Untuk lahan tembakau yang berada di wilayah teknis, panen diperkirakan baru akan berlangsung pada Agustus 2025 mendatang. Ia berharap cuaca mendukung agar kualitas dan harga jual tembakau tetap tinggi.
“Kalau cuaca bersahabat, harga bisa mahal. Tapi kalau kemarau basah seperti sekarang, kualitas tembakau bisa menguning dan kuantitasnya turun,” kata Yasid, warga Desa Pekalangan, Kecamatan Tenggarang.
Ia menjelaskan, kondisi cuaca yang tidak cukup terik dapat menurunkan hasil panen dari rata-rata 1-1,2 ton per hektar menjadi sekitar 900 kilogram per hektar. Hal ini perlu diantisipasi oleh petani agar kerugian bisa diminimalkan. [awi/beq]






