Kediri (beritajatim.com) — Usia boleh menua, tetapi semangat hidup tak mengenal kata pensiun. Prinsip itulah yang terus dipegang Dwi Soetjipto, mantan Kepala SKK Migas sekaligus eks Direktur Utama Pertamina, yang tetap tegak di atas sadel sepeda dan menaklukkan rute menantang Kediri Dholo KOM 2025, Minggu (20/7/2025).
Berangkat dari Simpang Lima Gumul (SLG), Kediri, sekitar 400 pesepeda dilepas pagi itu. Matahari menyapa malu-malu, udara pegunungan masih bersih, jalur menanjak menuju Gunung Kelud dan Air Terjun Dholo, Besuki, menanti mereka yang percaya diri sanggup menaklukkan tanjakan ‘tak berakhlak’.
Garis finis di Cafe Prongon jadi saksi bisu: peluh, lelah, dan tawa berbaur, mengalir bersama kisah yang tercipta di setiap kayuhan.
Bagi Dwi Soetjipto yang lahir pada tahun 1965 atau usia 70 tahun, Dholo KOM bukan sekadar ajang balapan sepeda. Ini ritual merawat jiwa. Ini cara membuktikan bahwa semangat hidup tak punya masa kedaluwarsa.
“Yang saya lawan bukan peserta lain, tapi diri saya sendiri. Tanjakan adalah ujian tekad,” ucap Dwi Soetjipto, senyumnya sama hangatnya dengan sinar pagi Kediri.
Tanjakan Dholo: Ujian Kesabaran dan Tekad
Etape paling ikonik adalah Kelok 9 Air Terjun Dholo, diikuti Tanjakan Gigi 1, jalur menanjak dengan kemiringan nyaris 45 derajat yang membuat banyak peserta turun dari sadel. Tak heran jika jalur ini dijuluki para cyclist sebagai tanjakan tanpa akhlak.
Namun Dwi tetap teguh di atas sadel. Setiap kayuhan diiringi napas yang teratur, setiap putaran pedal seolah jadi mantra agar tetap teguh hingga puncak.
Di pinggir lintasan, sesama peserta memberi hormat, “Semangat Pak Dwi! Panutan!” teriak seorang pesepeda muda. Dwi hanya membalas dengan anggukan kecil dan satu kayuhan tambahan—cukup untuk membuktikan segalanya.
Merayakan Usia, Menulis Ulang Makna Hidup
Seperti gelaran tahun-tahun sebelumnya, Dholo KOM memang bukan hanya perlombaan. Ia jadi panggung untuk merayakan syukur. Syukur atas napas yang masih panjang, kaki yang masih kuat menanjak, dan hati yang tetap menolak menyerah.
“Bersepeda bukan hanya tentang otot, tapi juga mental. Kalau kita disiplin di lintasan, kita akan lebih disiplin dalam hidup,” kata Dwi, menegaskan filosofi sederhana yang ia praktikkan sejak memimpin perusahaan besar hingga kini memimpin dirinya sendiri.
Dulu Dwi duduk di ruang rapat strategis, kini ia menempuh sunyi tikungan gunung. Dulu ia berbicara di mimbar podium, kini ia berdialog dengan dirinya sendiri di jalur terjal. Ia tidak sedang mengejar garis finis tercepat. Ia sedang menaklukkan ego, satu tanjakan demi tanjakan.
Dari Ribuan Cerita, Satu Nama yang Diingat
Lebih dari 400 peserta, datang dari berbagai kota dan mancanegara, dari atlet profesional hingga penghobi yang baru belajar. Semuanya bercampur dalam semangat sama: menaklukkan tanjakan dan menaklukkan diri sendiri.
Namun di antara ratusan cerita, kisah Dwi Soetjipto tetap jadi yang paling banyak dibicarakan. Bukan karena ia tercepat, tetapi karena ia konsisten. Karena di balik helmnya, tersimpan tenang yang menular. Karena di setiap putaran pedalnya, terbit teguh yang menginspirasi.
“Ini bukan soal siapa tercepat, tapi siapa yang tidak menyerah,” pungkas Dwi Soetjipto.
Dan benar, Dholo KOM 2025 lebih dari sekadar kompetisi sepeda. Ini pentas di mana setiap peserta menulis ulang arti hidup, satu kilometer demi satu kilometer. Di punggung tanjakan Air Terjun Dholo, Dwi Soetjipto membuktikan: umur hanyalah angka. Semangatlah yang menjaga kayuhan tetap berputar.






