Kediri (beritajatim.com) – Malam Jumat itu, aroma dupa meruap di udara, membaur dengan lantunan doa yang syahdu. Di Situs Persada Soekarno, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, ratusan pasang mata menyaksikan ritual jamasan pusaka—sebuah tradisi yang tak hanya membersihkan benda-benda bersejarah, tapi juga menyucikan hati dan menghubungkan generasi.
Di tengah barisan keris dan tombak, pusaka Kyai Gadakan—warisan langsung dari Presiden Soekarno—menjadi pusat perhatian. Dikelilingi lebih dari 200 pusaka lain dari berbagai penjuru Nusantara, benda-benda sakral itu menjalani prosesi pembersihan hingga dini hari.
Mas Jeje, pemimpin ritual, tersenyum penuh rasa syukur. “Alhamdulillah, semalam jamasan pusaka berjalan lancar. Tidak hanya Kyai Gadakan, tapi ratusan pusaka lainnya ikut dijamas,” ucapnya, Minggu (20/7/2025). Yang membuatnya haru, bukan hanya para sepuh yang hadir. Anak-anak muda pun berdiri di barisan depan.
Salah satunya Ido, pemuda Kediri yang sejak 2020 jatuh hati pada budaya dan pusaka.
“Banyak hal positif yang saya rasakan. Saya jadi lebih dekat dengan ibadah, lebih sabar, dan lebih menghargai waktu,” akunya.
Inilah yang diam-diam menjadi denyut hidup acara ini. Di balik kilau warangka dan gemerlap warisan leluhur, tersimpan harapan besar: agar tradisi ini bukan sekadar upacara tahunan, tapi menjadi pintu masuk generasi muda untuk mengenal jati diri bangsanya.
Kushartono, Ketua Harian Situs Persada Soekarno, menjelaskan bahwa ritual ini dulunya tertutup, diwariskan turun-temurun. Namun lima tahun terakhir, pintunya dibuka lebar.
“Supaya menjadi pelajaran. Bukan sekadar tradisi, tapi edukasi budaya bagi masyarakat, khususnya generasi muda,” katanya.
Malam itu, Situs Persada Soekarno bukan sekadar saksi jamasan pusaka. Ia menjadi saksi pertemuan antara masa lalu dan masa depan—antara warisan leluhur dan semangat muda yang tak mau tercerabut dari akarnya. [nm/suf]






