Malang (beritajatim.com) – Program inkubasi bisnis yang berfokus pada pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) milik penyandang disabilitas, Empower Academy, resmi memulai Batch 2 di Kota Malang.
Inisiatif yang diinisiasi oleh Bentoel Group melalui program CSR Bangun Bangsa dan berkolaborasi dengan ngalup.co ini bertujuan memperluas dampak positif bagi para wirausahawan difabel di Indonesia.
Acara pembukaan yang digelar pada Kamis (17/7/2025) di Main Hall Malang Creative Center (MCC) lantai 2 ini dihadiri oleh Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, serta Kepala Dinas Sosial Kota Malang, Donny Sandito.
Program ini menjaring total 30 UMKM difabel terpilih yang akan mendapatkan pendampingan intensif selama tujuh bulan ke depan.
Irfan Rahmad, General Manager ngalup.co sekaligus pelaksana Empower Academy Chapter Malang, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mengatasi tantangan utama yang dihadapi UMKM difabel.
“Kami yakin para peserta memiliki keterampilan produksi yang luar biasa. Namun, yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan promosi, terutama melalui digital marketing, aktivasi sosial media, dan SEO (Search Engine Optimization) di Google, agar produk mereka dikenal lebih luas,” ujar Irfan kepada awak media.
Dari total 30 peserta, 25 di antaranya adalah peserta baru, sementara 5 lainnya merupakan alumni dari Batch 1 yang terpilih untuk mengikuti program pendampingan lanjutan bernama ‘Hypercare’. Program ini memastikan adanya kesinambungan dan monitoring untuk bisnis yang telah menunjukkan perkembangan signifikan.
“Tidak ada kriteria disabilitas khusus. Kami sangat terbuka. Namun, kami melakukan kurasi ketat untuk memastikan peserta memiliki komitmen dan semangat kemandirian yang tinggi, karena program ini murni memberikan bekal keilmuan tanpa insentif uang saku,” tambah Irfan.

Implementasi pendampingan Empower Academy menyentuh aspek-aspek krusial dalam bisnis. Mulai dari legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga pendaftaran merek (HAKI) untuk menghindari sengketa di kemudian hari.
Selain itu, peserta akan dibekali strategi pemasaran digital, termasuk cara merawat pelanggan (customer relationship management) melalui platform seperti WhatsApp yang kini menjadi kanal komunikasi utama.
Dian Widyanarti, Head of Corporate and Regulatory Affairs Bentoel Group, menyatakan kebanggaannya atas keberhasilan Batch 1 yang mencatatkan tingkat kelulusan (completion rate) hingga 96%.
“Ini membuktikan komitmen kuat para peserta untuk berkembang. Empower Academy tidak hanya membantu pengembangan usaha, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir. Di Batch 2 ini, kami berharap dapat memperluas dampak positif tersebut ke lebih banyak UMKM difabel di Indonesia,” ungkap Dian.
Empower Academy sendiri memiliki fokus yang berbeda di setiap daerah. Di Malang, fokusnya adalah UMKM difabel, sementara di wilayah lain seperti Jawa Tengah dan Jakarta, program ini menyasar masyarakat rural, vokasional, hingga kelompok perempuan marjinal.
*Kisah Sukses Alumni: Dari Omzet Tak Menentu hingga Puluhan Klien per Bulan*
Dampak nyata program ini dirasakan langsung oleh para alumni. Nur Khalifah, atau yang akrab disapa Iva, seorang tuna netra pemilik usaha jasa pijat, berbagi pengalamannya.
“Sebelum ikut Empower Academy, saya sering ragu dan tidak percaya diri. Kadang dalam seminggu tidak ada pelanggan sama sekali. Area layanan saya pun hanya sebatas tetangga di Sawojajar,” kenang Iva.
Setelah mengikuti pelatihan, Iva tidak hanya memahami cara mengelola keuangan dan pemasaran, tetapi juga difasilitasi untuk mendapatkan NIB dan logo usaha. Hasilnya, usahanya melesat.
“Alhamdulillah, sekarang kepercayaan diri saya meningkat. Saya jadi tahu teknik pemasaran yang benar. Kini, saya bisa melayani hingga 80 klien dalam sebulan, bahkan pernah mendapat panggilan sampai ke Dau. Semua berkat ilmu dan branding yang saya dapatkan,” tuturnya bangga.
Kisah serupa datang dari Atik Tri Tatuningtyas, seorang disabilitas tunadaksa dari Kepanjen, pemilik usaha jus FrutaFrooty. Baginya, momen paling berharga adalah saat belajar tentang pentingnya branding dan legalitas merek.
“Dulu nama usaha saya ‘JustJuice’. Setelah ikut pelatihan dan mendaftarkan merek, ternyata nama itu sudah banyak digunakan. Akhirnya, kami melakukan rebranding total menjadi ‘FrutaFrooty’ dengan slogan baru. Ini adalah pelajaran yang sangat mahal,” jelas Atik.
Berkat bimbingan tersebut, usaha Atik yang semula hanya satu, kini telah berkembang menjadi tiga cabang. Ia mengaku belum pernah menyentuh marketplace sebelum bergabung dengan Empower Academy, dan kini merasakan perbedaan penjualan yang sangat signifikan. (dan/ted)






