Malang (beritajatim.com) – Di antara deretan pendidik yang terpilih untuk mengawaki Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Malang, sebuah program rintisan untuk memutus rantai kemiskinan, ada satu nama dengan kisah perjalanan yang unik: Rizki Izzah Naditasari, S.Pd.
Baginya, bergabung dengan sekolah ini bukan sekadar pilihan karir, melainkan sebuah panggilan jiwa yang berlabuh setelah menempuh jalan panjang.
Perjalanan Izzah, sapaanya, dimulai pada tahun 2016, saat ia merantau dari kampung halamannya di Bondowoso ke Kota Malang untuk menempuh studi S1 Pendidikan Seni Tari dan Musik.
Namun, semangatnya untuk mengajar dan berbagi ilmu tak bisa menunggu hingga ia lulus.
“Sebelum saya bergabung di SRMA 22, saya menjadi guru ekstrakurikuler tari di 13 sekolah Kota Malang, mulai dari jenjang TK hingga Universitas,” ungkap Izzah kepada beritajatim.com, Rabu (16/7/2025).
Dedikasinya tak berhenti di situ. Di sela-sela kesibukannya mengajar dari satu sekolah ke sekolah lain, Izzah juga aktif berkecimpung di dunia kreatif sebagai freelance model makeup artist.
Baginya, mengejar karir dan pendidikan adalah dua hal yang harus berjalan seimbang. Filosofi inilah yang mendorongnya untuk terus menempa diri.
“Pekerjaan itu saya lakukan sembari upgrade ilmu dengan mengambil profesi guru (PPG Prajabatan Gel 1 Tahun 2023),” tuturnya. “Karena menurut saya upgrade diri dengan menambah ilmu dan wawasan sangatlah penting. Kejar karir oke, kejar pendidikan juga harus oke!”
Prinsip hidup yang kuat inilah yang akhirnya menuntun langkahnya ke gerbang SRMA 22. Saat mendengar tentang seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk sekolah ini, ia tak ragu untuk mendaftar. Visi besar SRMA 22 sebagai institusi pemutus rantai kemiskinan seketika menarik hatinya.
“Saya tertarik karena ini merupakan salah satu program pendidikan dengan tujuan memutus rantai kemiskinan. Peserta didik akan difasilitasi dengan sangat baik di sekolah ini,” jelasnya.
Kini, sebagai guru seni budaya di SRMA 22, Izzah telah menyiapkan sebuah misi personal yang selaras dengan tujuan besar sekolah. Ia melihat seni tari bukan sekadar rangkaian gerak estetis, melainkan sebuah medium yang kuat untuk pemberdayaan diri.
“Saya selaku guru seni budaya akan berkontribusi untuk membantu peserta didik mengekspresikan diri melalui seni. Menemukan jati diri dengan bergerak aktif, kreatif, dan berbudaya,” paparnya penuh antusias.
Lebih jauh, Izzah berharap bisa menanamkan nilai-nilai luhur melalui setiap gerakan yang diajarkannya. Baginya, tari adalah cara untuk mengenal sejarah, kebudayaan, nilai moral, sekaligus mengasah keterampilan motorik. Harapan terbesarnya adalah melihat para siswanya kelak menjadi mercusuar perubahan di lingkungan mereka.
“Harapannya peserta didik dapat menjadi agen perubahan bagi keluarga dan komunitas mereka dengan menginspirasi banyak orang supaya bangkit, mandiri, dan berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya.
Dengan mata berbinar, Izzah menyimpulkan harapannya untuk program yang baru saja ia geluti dengan sepenuh hati. “Semoga program ini memutuskan rantai kemiskinan, dan semoga setelah ini juga lebih banyak lagi siswanya, dan kita juga bisa memberikan yang terbaik.” (dan/ted)






