Pacitan (beritajatim.com) – Di tengah menurunnya animo masyarakat menyekolahkan anak di sekolah negeri, tren berbeda justru terlihat di pondok pesantren. Data dari Kementerian Agama Kabupaten Pacitan mencatat, jumlah santri baru tahun ini meningkat sebesar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Jumlah santri tahun lalu sebanyak 7.614 orang, sekarang menjadi 7.849 orang, naik 235 santri atau sekitar 3 persen,” ujar Sumino, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) Pacitan, Rabu (16/7/2025).
Sumino menyebut, peningkatan jumlah santri ini terjadi di sejumlah pondok besar di Pacitan, seperti Pondok Tremas dan Pondok Kikil, Arjosari, serta Al Anwar, kelurahan Ploso.
Menurutnya, sebagian besar wali santri menyekolahkan anak ke pesantren karena menginginkan penguatan pendidikan agama sekaligus pengawasan yang lebih menyeluruh terhadap anak.
“Kalau disekolah biasa, orang tua harus mengantar jemput, mengawasi langsung. Tapi kalau di pesantren, anak sekalian diasramakan dan lebih fokus belajar agama,” jelasnya.
Selain bertambahnya jumlah santri, tahun ini juga ada lima pondok pesantren baru yang didirikan di Pacitan. Menurut Sumino, hal ini tak lepas dari inovasi-inovasi di lingkungan pesantren, terutama yang menawarkan program tahfidzul Qur’an.
“Targetnya, anak tamat belajar Al-Qur’an, bahkan bisa hafal. Itu jadi keinginan banyak orang tua saat ini,” pungkasnya. (tri/but)






