Magetan (beritajatim.com) – Langkah kecil penuh harapan itu dimulai dari sebuah dusun di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Lahir kisah inspiratif tentang perjuangan menembus batas kehidupan. Nugroho Adhi Pratama atau yang akrab disapa Nugi, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menggapai mimpi besar.
Nugi adalah anak tunggal dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya lulusan SD dan pernah menjadi sopir angkot sebelum beralih berdagang sayur. Sementara sang ibu, lulusan SMP, bekerja membungkus makanan ringan sebelum ikut membantu berdagang demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Ayah saya sering mengingatkan, kami lahir dari kekurangan, tapi jangan pernah rela mati dalam keadaan yang sama,” adalah pesan yang terus diingat Nugi dari sang ayah.
Meski hidup dalam kesederhanaan, Nugi tumbuh menjadi siswa yang aktif berbagai kegiatan. Ia pernah menjadi Ketua OSIS di SMP dan SMA. Meski nilai akademik sempat turun karena kesibukan organisasi, tekadnya tetap kuat pendidikan harus jadi jalan perubahan.
“Saya tahu hidup kami sulit. Tapi saya juga tahu, saya tidak mau hidup kami berhenti di sana. Saya ingin menjadi orang yang bisa memberi manfaat lebih,” kenangnya.
Tahun 2018 menjadi titik awal perjuangan baru ketika ia diterima di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan Hukum Internasional. Masa kuliah bagi Nugi bukan perjalanan mudah. Dari biaya hidup hingga tuntutan akademik, semua menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Ia tak hanya belajar namun juga bekerja sebagai asisten dosen untuk Prof. Marsudi Triatmodjo dan Dr. Agustina Merdekawati, menjadi peneliti di Pusat Studi Ekonomi UGM, editor jurnal ilmiah, hingga ikut program Kampus Mengajar. Nugi juga sempat mengikuti program pertukaran pelajar ke Malaysia dan menulis buku yang mengangkat isu-isu hukum internasional.
“Saya kuliah pagi, aktif organisasi siang, kerja malam. Lelah? Tentu, tapi saya selalu ingat kata Viktor E. Frankl: ‘What is to give light must endure burning.’ Itu yang membuat saya terus semangat,” ungkapnya.
Hasilnya tak sia-sia. Selama kuliah S1, ia menulis tujuh jurnal hukum, menerbitkan dua buku, dan meraih lebih dari 20 penghargaan di bidang akademik dan advokasi.
Setelah lulus, Nugi bekerja sebagai konsultan di Kementerian PUPR. Namun semangat belajarnya belum padam. Ia mendaftar ke National University of Singapore (NUS) dan diterima di program Magister Hukum Internasional dan Komparatif dengan beasiswa bergengsi LPDP.
Di NUS, tak hanya mendapatkan ilmu baru namun Nugi menjadi Research Assistant di Centre for International Law. Ia mendalami riset hukum laut internasional, isu dark fleet, keamanan maritim, hingga regulasi kabel bawah laut.
“Saya sangat suka hukum laut. Bahkan wifi saya namai ‘Mochtar Kusuma’ karena saya kagum pada beliau,” ujarnya sambil tertawa.
“Jadi belajar dari para pakar dunia seperti Prof. Robert Beckman adalah pengalaman luar biasa. Rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan,” katanya penuh syukur.
Kini, Nugi Nugi mengemban peran penting di ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA), membantu memperkuat kerja sama antarparlemen dan diplomasi kawasan.
“Semua ini bukan hanya untuk saya, tapi untuk mereka yang percaya bahwa dari dusun kecil sekalipun, kita bisa menjadi cahaya bagi banyak orang,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Pesannya bagi generasi muda, terutama yang berasal dari daerah atau desa terpencil, sederhana namun penuh makna.
“Sepeda akan jatuh kalau kita berhenti mengayuh. Maka teruslah mengayuh, teruslah melangkah.” (ted)






