Surabaya (beritajatim.com) – Fenomena warung Madura yang buka 24 jam di berbagai kota besar seperti Surabaya bukan sekadar strategi bisnis. Di balik layanan non-stop itu, tersimpan sejarah panjang dan etos kerja khas masyarakat Madura yang telah teruji lintas zaman.
Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair), Dr. La Ode Rabani mengungkapkan bahwa karakter kerja keras dan semangat merantau telah melekat erat dalam identitas orang Madura.
Menurutnya, fenomena warung Madura 24 jam justru merupakan cerminan dari daya juang dan ketangguhan kultural mereka dalam menghadapi persaingan ekonomi.
Ia menyebut bahwa etos kerja orang Madura sudah tertanam sejak lama. Bahkan di masa kolonial Belanda, mereka dikenal mandiri dan tidak mudah diintervensi. Latar belakang ekologis Madura yang tidak subur, mendorong mereka menjadi pekerja keras.
“Jika dilacak dari akar historis, orang-orang Madura memang dikenal mempunyai etos kerja yang kuat dan bebas, tanpa mau diintervensi oleh penguasa kolonial Belanda sekalipun,” kata La Ode, Selasa (15/7/2025).
Lebih lanjut, La Ode menjelaskan bahwa Madura secara historis bukan wilayah agraris, melainkan berbasis maritim. Masyarakatnya dikenal piawai dalam pelayaran, perdagangan pesisir, dan perakitan kapal.
Posisi strategis Madura yang dekat dengan Surabaya, Probolinggo, dan Pasuruan juga mempercepat integrasi mereka dengan pusat-pusat ekonomi Jawa. “Kondisi ini menyebabkan orang-orang Madura belajar banyak dari geliat ekonomi yang ada,” imbuhnya.
Tradisi merantau juga menjadi salah satu kunci kekuatan komunitas Madura. Sejak dulu mereka telah menjelajah ke berbagai penjuru Nusantara sebagai buruh, tentara, hingga pekerja keagamaan. Meski merantau, identitas kultural seperti bahasa, ibadah, dan nilai-nilai adat tetap dijaga.
“Di tanah rantau, membawa budaya adalah keharusan. Itu yang mengikat secara emosional,” ujar La Ode.
Menurutnya, orang Madura cenderung merantau dalam kelompok untuk menjaga solidaritas dan saling membantu, terutama saat menghadapi tantangan sosial di wilayah baru. Namun kini, penerimaan terhadap masyarakat Madura jauh lebih baik, yang ditandai dengan meningkatnya pernikahan antar-etnis dan keterlibatan tokoh Madura dalam birokrasi di berbagai daerah.
Fenomena warung Madura buka 24 jam sendiri, menurut La Ode, bukan sekedar bisnis. Namun wujud adaptasi terhadap kompetisi ekonomi yang semakin ketat. Bagi orang Madura, bekerja sepanjang hari dan malam bukan sesuatu yang asing, melainkan bentuk strategi hidup yang realistis.
“Generasi muda harus belajar bahwa malas adalah awal dari kehancuran, sementara kerja keras di luar batas normal adalah tuntutan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa operasional warung Madura selama 24 jam juga menunjukkan kemampuan mereka dalam membagi peran, waktu tidur, dan ritme kerja antar anggota keluarga, tanpa melanggar aturan agama maupun sosial. [ipl/but]






