Malang (beritajatim.com) – Penelitian mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Malang (Unisma) mengungkap temuan tentang hubungan antara pengungkapan keberlanjutan (Environmental, Social, and Governance/ESG), akuntansi hijau, dan nilai perusahaan. Temuannya menyatakan bahwa semakin tinggi pengungkapan ESG, justru menurunkan nilai perusahaan kecuali jika ditopang oleh profitabilitas yang kuat.
Riset ini dipaparkan dalam forum prestisius International Thesis Examination yang menghadirkan penguji internasional Dr. Wathanan Srinin dari Prince of Songkla University, Thailand. Di bawah bimbingan dua pakar keuangan Unisma, Assoc. Prof. Dr. Nur Diana, S.E., M.Si., CMA, CBV, CERA dan Dewi Diah F., S.E., M.Si., CERA, mahasiswi bernama Sofi Dinianti dari kelas internasional Program Studi Akuntansi FEB Unisma berhasil memantik diskusi seputar efektivitas pengungkapan ESG dalam meningkatkan valuasi perusahaan.
Penelitian Sofi mengambil data dari perusahaan yang masuk dalam indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI pada periode 2021–2023. Indeks ini diluncurkan untuk mendorong praktik bisnis berkelanjutan dan transparansi pengelolaan dampak sosial-lingkungan.
Namun, di tengah dorongan regulasi seperti Peraturan OJK No. 51 Tahun 2017 dan maraknya kasus pencemaran lingkungan yang melibatkan perusahaan besar, seperti PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, hingga PT Wings Surya, masih muncul pertanyaan mendasar, apakah pengungkapan ESG benar berdampak positif terhadap nilai perusahaan?
Penelitian Sofi menyampaikan tiga temuan utama yang menantang asumsi lama. Pertama, kata Sofi, temuan soal green accounting tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
“Kami Ini menggugurkan pandangan bahwa sekadar mencatat biaya lingkungan sudah cukup untuk meningkatkan kepercayaan pasar,” ujar Sofi Dinianti.
Kedua, engungkapan ESG berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan. Dalam konteks perusahaan yang diteliti, semakin tinggi ESG disclosure, nilai perusahaan justru cenderung menurun. Investor memandang pengungkapan ini sebagai potensi beban atau risiko biaya tambahan yang belum tentu memberikan dampak langsung terhadap keuntungan jangka pendek.
Ketiga, Profitabilitas (ROA) menjadi faktor kunci. Return on Assets (ROA) terbukti memiliki pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.
“Yang lebih mengejutkan, ROA juga memoderasi secara negatif* hubungan antara ESG dan nilai perusahaan. Artinya, meski perusahaan sudah mengungkap ESG, tanpa profitabilitas yang kuat, nilainya tetap akan tertekan di mata investor,” ungkapnya.
Penelitian ini mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga terkait untuk mengevaluasi kembali strategi ESG dari sisi insentif dan interpretasi pasar. Ada kebutuhan akan kerangka kerja yang lebih holistik, agar pengungkapan ESG tidak justru menjadi bumerang bagi perusahaan yang beritikad baik menjalankan bisnis ramah lingkungan dan sosial.
Dalam konteks ini, temuan Sofi Dinianti bukan sekadar karya ilmiah, melainkan panduan praktis bagi regulator, investor, dan pelaku usaha untuk cermat dalam menilai dampak ekonomi dari strategi keberlanjutan.
Temuan ini memberi sinyal kuat bagi perusahaan dan regulator bahwa strategi ESG tidak cukup hanya mengandalkan laporan pengungkapan. Harus ada strategi bisnis konkret yang menjadikan keberlanjutan sebagai nilai tambah ekonomi, bukan sekadar kepatuhan formal.
“Penelitian ini membuka mata kita terhadap realitas pasar yang lebih bernuansa. Keberlanjutan adalah keharusan, tetapi cara kita mengukur dan mengkomunikasikannya, terutama dalam kaitannya dengan profitabilitas, sangat menentukan persepsi nilai,” ujar Assoc. Prof. Dr. Nur Diana, pembimbing utama.
Sementara itu, Dewi Diah menyebut, “Kami bangga dengan Sofi Dinianti yang berani menantang asumsi dan memberikan bukti empiris yang kuat. Ini adalah kontribusi signifikan bagi literatur akuntansi dan keuangan berkelanjutan, khususnya di konteks Indonesia.” (dan/but)






