Yogyakarta (beritajatim.com)— Meski ada kabar baik soal surplus beras dan kebangkitan sektor pertanian nasional, Indonesia kini menghadapi tantangan baru: kemarau basah. Fenomena cuaca yang tak biasa ini memicu kekhawatiran para petani dan pakar pertanian karena bisa berdampak serius terhadap produksi pangan.
Kemarau basah adalah kondisi di mana musim kemarau tetap disertai hujan dengan intensitas tinggi. Dalam kondisi normal, bulan Mei hingga Juli seharusnya menjadi waktu kering yang ideal bagi petani menanam komoditas seperti cabai dan bawang merah. Namun tahun ini, hujan terus turun dan bahkan menyebabkan banjir di beberapa wilayah.
Petani Terjebak Cuaca Tak Menentu
Bayu Dwi Apri Nugroho, Ph.D., pakar agrometeorologi dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), menilai fenomena ini sebagai peringatan penting bagi dunia pertanian.
“Banyak petani gagal tanam karena salah perhitungan musim. Mereka mengira Mei–Juni sudah kemarau, padahal justru hujan lebat masih terjadi,” ujarnya, Senin (14/7).
Akibatnya, banyak lahan tergenang air dan petani tak bisa menanam atau memanen hasilnya. Bahkan sebagian mengalami puso atau gagal panen total. Meskipun begitu, Apri menjelaskan bahwa kemarau basah juga membawa sisi positif, terutama bagi wilayah tadah hujan seperti Papua dan Indonesia bagian timur yang justru mendapatkan cukup air untuk bercocok tanam.
Perlu Langkah Antisipasi dan Edukasi Petani
Apri menegaskan pentingnya langkah strategis jangka pendek dan panjang untuk menghadapi kondisi iklim yang makin tak menentu ini. Menurutnya, Indonesia perlu memiliki sistem prediksi cuaca yang lebih detail hingga tingkat desa dan lahan. Informasi tersebut harus disampaikan langsung kepada petani, terutama terkait potensi La Niña atau anomali cuaca lainnya.
“Prediksi dini La Niña dapat membantu berbagai sektor, termasuk pertanian, kehutanan, perikanan, hingga transportasi, agar bisa mengurangi risiko kerugian,” jelas Apri.
Ia juga mendorong adanya edukasi berkelanjutan kepada petani, salah satunya lewat penyuluh pertanian. Edukasi ini penting agar petani siap menghadapi perubahan iklim dengan strategi yang tepat, termasuk pemanfaatan benih tahan genangan seperti Inpara 1–10, Inpari 29, Inpari 30, dan Ciherang.
Asuransi Pertanian dan Infrastruktur Jadi Kebutuhan Mendesak
Apri menyarankan pemerintah mulai mengembangkan skema asuransi pertanian untuk melindungi petani dari risiko gagal panen akibat perubahan iklim ekstrem. Selain itu, kesiapan infrastruktur seperti pompa air, jaringan irigasi tersier, dan sistem pompanisasi juga harus menjadi prioritas.
“Musim tak bisa ditebak lagi. Maka yang bisa kita lakukan adalah bersiap dengan teknologi dan pengetahuan agar sektor pertanian tetap tangguh,” tutupnya. [aje]






