Banyuwangi (beritajatim.com) – Puluhan anggota Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) dan Indonesian National Ferryowners Association (INFA) melaksanakan ritual larung sesaji di Selat Bali pada Sabtu, 12 Juli 2025.
Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diperoleh sekaligus sebagai upaya menyelaraskan hubungan manusia dengan alam. Kegiatan tersebut turut diikuti oleh pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Banyuwangi.
Ritual larung sesaji berlangsung di tengah Selat Bali. Sesaji dibawa terlebih dahulu dari kawasan dermaga LCM Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, kemudian diangkut menuju tengah laut menggunakan KMP Jambo VI. Setelah pembacaan doa secara khidmat, sesaji kemudian dilarung ke laut.
Kepala KSOP Tanjungwangi Banyuwangi, Purgana, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif dari Gapasdap dan INFA sebagai wujud syukur atas limpahan karunia Tuhan yang diberikan melalui alam. Ia menegaskan bahwa manusia tidak bisa lepas dari hubungan dengan sesama makhluk dan alam semesta.
“Semuanya melalui perantara, tidak mampu berhubungan langsung kepada sang khalik. Ini yang mendasari itu,” jelasnya.
Ketua DPC Gapasdap Banyuwangi, Nurjatim, menilai bahwa peristiwa kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya menjadi pengingat penting bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam.
“Bukan kami mendewakan tapi kami wajib bersyukur, di mana tempat kami bekerja, tempat kami berusaha, kami harus ada rasa terima kasih,” terangnya.
Lebih lanjut, Nurjatim mengatakan bahwa kegiatan larung sesaji akan dijadikan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Suro dalam kalender Jawa. Ia mengakui bahwa dalam beberapa tahun terakhir tradisi ini mulai terlupakan, padahal dahulu rutin dilakukan.
“Kami punya komitmen kepada penerus kami, nantinya ritual larung sesaji ini tetap dijalankan. Kami akan mengadakan secara rutin untuk keselamatan kami semua,” tegasnya.
Salah satu tokoh masyarakat yang juga mantan pegawai Kantor Syahbandar Ketapang, Sentot, turut hadir dalam acara tersebut. Ia mengungkapkan bahwa dari tahun 2013 hingga 2015, saat dirinya masih menjabat, larung sesaji rutin dilakukan dan selama itu tidak pernah terjadi kecelakaan laut di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.
“Selama Saya menjabat di sini tidak ada kapal tenggelam, tahun 2013-2015. Ini kita lakukan lagi supaya tidak ada kendala agar kapal bisa berlayar dengan baik,” terangnya.
Sentot juga mengkritisi kondisi beberapa tahun terakhir di mana kapal-kapal hanya melintasi Selat Bali untuk mencari keuntungan tanpa memperhatikan kelestarian spiritual dan budaya di kawasan tersebut. “Harus selaras antara alam dan manusia,” kata pria yang juga seorang dosen ini.
Dalam ritual larung sesaji tersebut, sejumlah persembahan turut dilarung ke laut. Di antaranya adalah kepala kerbau jantan, pisang raja, apel, jeruk, dan bubur suro. “Bubur Suro ini penting, kalau tidak ada gak sah menurut leluhur. Supaya pelayaran Ketapang-Gilimanuk aman dan lancar,” jelas Sentot.
Ritual larung sesaji di Selat Bali bukan sekadar tradisi spiritual semata, tetapi juga bentuk kearifan lokal yang merekatkan hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur.
Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi transportasi laut, tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni dengan alam sebagai fondasi keselamatan dan keberlangsungan usaha pelayaran. [alr/suf]






