Surabaya (beritajatim.com) – Kota Surabaya menghadapi krisis kekurangan tenaga pendidik guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang kian tahun semakin memburuk, seiring dengan banyaknya guru senior (tua) yang pensiun kerja.
Jumlah guru SD senior yang pensiun di Surabaya mencapai 300 orang setiap tahunnya, sementara ketika ada perekrutan guru baru jumlahnya selalu menurun, jauh dari angka (jumlah) guru-guru yang pensiun.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh mengatakan bahwa, upaya mengantisipasi kekurangan guru SD di Surabaya telah dilakukan setiap tahun dengan penempatan guru pegawai kontrak PPPK, namun hal itu belum sepenuhnya dapat mengcover kekurangan guru di semua sekolah.
“Meskipun recriutmen guru baru terus dilakukan, jumlah guru pensiun selalu melebihi jumlah guru diterima, dan bahkan di setiap tahunnya ada 300 guru pensiun,” terang Yusuf Masruh, Sabtu (12/7).
Bahkan, dari permasalahan kekurangan guru-guru di sekolah tersebut memaksa banyak guru senior (tua) mengajar di banyak kelas, sehingga berisiko memicu proses belajar siswa yang kurang efektif.
Sebagai upaya penanganan krisis guru, Yusuf juga mengatakan, dinas akan menggandeng perguruan tinggi, di antaranya Universitas Surabaya (Ubaya) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG).
“Mahasiswa PPG (Pendidikan Profesi Guru) akan dilibatkan untuk membantu mengajar di sekolah-sekolah yang kekurangan guru, dengan honorarium yang disesuaikan dengan jam mengajar dan dikoordinasikan oleh Dinas Pendidikan,” jelas Yusuf.
Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD Surabaya, Eko Juliastomo, turut menyoroti dan membenarkan kekurangan guru SD di Surabaya. Ia mengungkapkan bahwa banyak kepala sekolah juga merangkap mengajar, dan ia hanya bisa berharap keadaan ini segera berakhir dengan mempercayakan solusi tersebut kepada dinas.
“Untuk mengatasinya mungkin nanti ada perekrutan guru dari P3K tahap 2 lalu disebar ke sekolah-sekolah SD di Surabaya untuk memenuhi kekurangan guru. Untuk perekrutan pertama sudah dan masih belum ditempatkan tenaga pendidik,” ungkap Eko.
“Kalau dikatakan, kekurangan guru ini pendidikan bisa terganggu, kurang efisien. Ke depan mudah-mudahan bisa tercover kekurangan guru. Dan seharusnya per kelas diisi satu guru profesional, tidak merangkap,” tutup Eko. [ram/ian]






