Bojonegoro (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menargetkan peningkatan produksi padi secara signifikan untuk merebut posisi sebagai produsen terbesar kedua di Jawa Timur pada tahun 2026.
Ambisi ini diungkapkan di tengah optimisme petani lokal yang menikmati harga gabah tertinggi dalam sejarah di tingkat mereka.
Target ambisius tersebut disampaikan Bupati Setyo Wahono saat menghadiri acara syukuran panen raya “Wiwit Massal” di Desa Sidodadi, Kecamatan Sukosewu, beberapa waktu lalu. “Tahun depan kita punya target menjadi nomor dua di Jawa Timur, mari bersama-sama kita usahakan,” ujar Setyo Wahono, Jumat (4/7/2025).
Untuk mewujudkan target tersebut, Bojonegoro harus melampaui produksi Kabupaten Ngawi. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mengenai produksi padi tahun 2024, posisi Bojonegoro saat ini berada di urutan ketiga dengan total produksi sekitar 985 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG).
Posisi Bojonegoro masih berada di bawah dua kabupaten lumbung padi utama Jawa Timur, yaitu, Kabupaten Lamongan pada peringkat pertama dengan produksi mencapai 1,12 juta ton GKG dan urutan kedua, Kabupaten Ngawi dengan produksi sekitar 1,05 juta ton GKG.
Untuk mengejar hasil panen sedikitnya 65 ribu ton GKG, Setyo Wahono juga menyarankan kepada para petani agar proaktif mengajukan proposal bantuan alat kombi melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian. Selain itu, menurut Wahono, pemerintah siap memberikan dukungan menghadapi kelangkaan pupuk bersubsidi dan keterbatasan alat panen modern.
“Pertanian adalah skala prioritas kami. Jika ada kendala, pemerintah siap hadir menjadi solusi,” tegas Wahono.
Sementara itu, semangat untuk menggenjot produksi datang dari tingkat petani. Dalam acara yang digelar Kelompok Tani Sumber Makmur, Kepala Desa Sidodadi Kecamatan Sukosewu, Doni Prasetion mengungkapkan kegembiraan para petani atas hasil panen dan harga jual yang sangat baik.
Desa Sidodadi sendiri memiliki lahan panen seluas 333 hektar, yang menjadi salah satu penopang utama produksi di Kecamatan Sukosewu. “Harga gabah saat ini mencapai Rp6.900 per kilogram di tingkat kombi (combine harvester). Harga setinggi ini baru kali ini terjadi,” ungkapnya. [lus/ted]






