Surabaya (beritajatim.com) – PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) menutup tahun 2024 dengan kinerja mentereng, yakni mencatatkan laba bersih sebesar Rp565 miliar. Ini tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Peningkatan ini dinilai menjadi bukti keberhasilan strategi penguatan digitalisasi dan efisiensi operasional yang dijalankan perusahaan pengelola kawasan industri milik negara tersebut.
“Tahun 2024 menjadi tahun dengan kinerja paling kokoh dalam dua dekade terakhir. Kami bahkan telah pulih dan melampaui capaian sebelum pandemi Covid-19,” ujar Direktur Utama PT SIER, Didik Prasetiyono dalam Paparan Publik Kinerja 2024, Senin (30/6/2025).
Laba Bersih Naik 42,5 Persen, Pendapatan Lampaui Target
Secara rinci, laba bersih PT SIER meningkat 42,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini mencerminkan efektivitas strategi bisnis serta pengelolaan risiko yang matang. Total pendapatan pada 2024 tercatat sebesar Rp586 miliar, melampaui target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun berjalan.
Tak hanya itu, total aset perusahaan juga mengalami pertumbuhan sebesar 1,57 persen, menjadi Rp21,37 triliun. Pencapaian ini semakin mengukuhkan posisi PT SIER sebagai salah satu pemain utama dalam pengelolaan kawasan industri di Indonesia.
Audit eksternal oleh Kantor Akuntan Publik RSM turut memperkuat reputasi keuangan PT SIER, dengan opini “wajar tanpa pengecualian” atau WTP.
Likuiditas Kuat dan Tumbuh Berkelanjutan
Dari sisi likuiditas, PT SIER juga mencatat peningkatan penerimaan kas dari aktivitas operasional (CFO) sebesar 14 persen. Ini menjadi indikator penting atas kekuatan bisnis inti perusahaan seperti penyewaan lahan, layanan utilitas, dan pengelolaan kawasan.
“Dengan menyetorkan dividen Rp71 miliar dan pajak Rp56 miliar yang kemudian menjadi simbol bagi kuatnya fundamental keuangan kita,” tambah Didik.
Ekspansi ke Ngawi dan Peluang Relokasi Industri Global
PT SIER juga bersiap memperluas pengelolaan kawasan industri hingga 2.000 hektar di Ngawi, Jawa Timur. Proses administrasi lahan saat ini tengah menunggu persetujuan dari Kementerian Kehutanan, dengan pengajuan awal seluas 1.109 hektar.
Lebih lanjut, Didik mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik antara Cina dan Amerika Serikat membuka peluang besar bagi Indonesia. PT SIER telah menjajaki relokasi kawasan industri asal Cina seluas 400 hektar ke wilayah Ngawi.
“Kita optimis Jawa Timur menjadi kawasan industri berdaya saing internasional. Jadi, kita sudah akan harus memanfaatkan kesempatan dan peluang yang tercipta akibat ketegangan antara Cina dan Amerika,” tegasnya.
Didik juga menekankan bahwa industrialisasi menjadi kunci dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen seperti yang dicanangkan Presiden terpilih Prabowo Subianto.
Sementara itu, Komisaris Utama PT SIER, Suwartomo menyoroti komitmen SIER terhadap aspek transparansi dan akuntabilitas publik. Menurutnya, capaian perusahaan tidak hanya berdampak terhadap neraca bisnis, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat dan negara. Salah satu wujud nyata kontribusi sosial SIER adalah melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang terus digalakkan secara aktif.
“PT SIER secara konsisten menjalankan program-program TJSL yang nyata, seperti pemberdayaan UMKM. Ini bentuk komitmen bahwa keberadaan PT SIER bukan hanya mengejar keuntungan, tapi juga turut membangun ekosistem sosial dan ekonomi yang sehat di lingkungan sekitar,” tegasnya. [ipl/suf]






