Pacitan (beritajatim.com) – Aktivitas bencana alam di Kabupaten Pacitan meningkat tajam sepanjang tahun 2025. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hingga 23 Juni mencatat total 190 kejadian, dengan tanah longsor sebagai bencana yang paling dominan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Radit Suryo Anggono, menyebutkan dari keseluruhan kejadian tersebut, sebanyak 132 merupakan tanah longsor. Selain itu, tercatat pula 18 kasus pohon tumbang, serta masing-masing 8 kejadian erosi dan operasi pencarian serta pertolongan.
Salah satu peristiwa terbaru terjadi pada Sabtu dini hari (28/6/2025) di Dusun Kresek, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung. Hujan deras menyebabkan longsor yang merusak bahu jalan di RT 01/RW 07 dan mengancam rumah-rumah warga yang berada di bawah titik longsor. Meski tak menimbulkan korban jiwa, potensi kerusakan lanjutan masih tinggi apabila hujan kembali turun. “Untuk antisipasi kami tutup dengan terpal,” ujar Radit ditulis Senin (30/6/2025).
Insiden serupa juga terjadi di Dusun Konto, Desa sekaligus Kecamatan Sudimoro. Tebing di pinggir jalan longsor saat hujan deras, hingga menyebabkan sebuah kendaraan terperosok. Tidak ada korban jiwa, namun kondisi jalan menjadi berbahaya bagi pengguna jalan.
Akibat rangkaian bencana tersebut, sebanyak 15 warga terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya. BPBD mencatat total 121 rumah terdampak, terdiri dari 6 unit rusak berat, 16 rusak sedang, 59 rusak ringan, dan 40 lainnya rusak sangat ringan.
Selain pemukiman warga, 69 fasilitas umum turut terdampak, meliputi 46 titik jalan, 14 talud penahan tanah, 6 sekolah atau gedung, serta masing-masing 1 saluran irigasi, tempat usaha, dan jembatan.
“BPBD terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di daerah rawan longsor dan tebing curam, karena potensi hujan deras dan cuaca ekstrem masih tinggi,” pungkasnya (tri/kun)






