Malang (beritajatim.com) – Lima tahun lalu, Nyai Roro Dadak Purwo dan seniman senior Didik Nini Thowok mengikat sebuah nazar bersama: menari dalam suasana sakral di kawasan candi. Nazar itu akhirnya terwujud pada Sabtu (28/6/2025) lalu, bertepatan dengan tanggal 2, bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Lokasi yang dipilih adalah Candi Kidal, Kabupaten Malang, yang sejak lama dikenal memiliki energi spiritual yang kuat.
Dalam wawancara khusus, Nyai Roro Dadak Purwo menceritakan bahwa rencana ini sebenarnya telah dirancang sejak lama, namun selalu tertunda akibat padatnya agenda masing-masing.
“Waktu itu kami sepakat ingin menari bersama di candi sebagai bentuk persembahan. Tapi karena kesibukan, niat itu belum pernah terlaksana. Awalnya kami rencanakan pada 12 Mei 2025, tepat malam bulan purnama, tapi masih ada kendala. Akhirnya kami memilih tanggal 28 Juni 2025,” ujarnya kepada beritajatim.com, Senin (30/6/2025)
Yang menarik, kolaborasi ini tidak didasarkan pada kesepakatan teknis seperti koreografi atau skenario pertunjukan. “Kami tidak menyepakati banyak hal secara rinci. Kami hanya membawa niat tulus untuk berkolaborasi, bersinergi, dan saling melengkapi melalui gerak,” tambahnya.
Rangkaian prosesi dimulai sejak pagi hari. Sekitar pukul 10.00 hingga 12.15 WIB, Nyai Roro Dadak Purwo dan Didik Nini Thowok menjalani ritual jamasan (pembersihan diri secara spiritual) di Candi Sumberawan. Ritual dilanjutkan di Candi Singhasari pada pukul 12.30 hingga 13.00 WIB. Setelah itu, keduanya bersiap dengan riasan dan penataan sesaji menjelang malam puncak di Candi Kidal.
Tepat pukul 22.00 WIB, tarian ritual dimulai dalam suasana tertutup dan sakral. Hanya sekitar 15 orang pendamping yang hadir sebagai saksi. Pertunjukan berlangsung dalam keheningan malam yang hanya ditembus alunan tembang khas dari Ki Sholeh Adi Pramono, pendiri Padhepokan Seni Mangun Dharma.
Denting genta dan suara singing bowls yang dimainkan oleh Nyai Roro Dadak Purwo semakin memperkuat nuansa spiritual. Dalam iringan alam dan musik ritual, Nyai Roro Dadak Purwo dan Didik Nini Thowok bergerak menyatu.
Gerak mereka harmonis, intuitif, dan penuh makna. Mengenakan kostum putih, keduanya tampil selaras dan khidmat, menampilkan dinamika tari yang bukan sekadar estetika, melainkan juga doa.
“Harapan kami, kolaborasi ini bisa menjadi sumber energi positif bagi seluruh alam semesta. Semoga semua makhluk berbahagia dan merasakan kedamaian dari getarannya,” pungkas Nyai Roro Dadak Purwo.
Tarian ini menjadi penegas bahwa seni dapat menjadi jembatan spiritual antara manusia, semesta, dan nilai-nilai luhur budaya leluhur. Perpaduan antara kekuatan simbolik, niat suci, dan lokasi sakral menjadikan pertunjukan ini tak sekadar peristiwa seni, tetapi juga bagian dari laku spiritual yang mendalam. (dan/but)






