Sumenep (beritajatim.com) – Kangean Energy Indonesia Ltd akhirnya memutuskan mundur dari Pulau Kangean, menghentikan rencana survei seismik tiga dimensi (3D) sebagai kegiatan awal eksplorasi migas.
Keputusan untuk ‘angkat kaki’ dari Pulau Kangean itu tertuang dalam kesepakatan yang ditandatangani pihak Kangean Energy Indonesia dan Camat Arjasa sebagai unsur pemerintah.
Juru bicara Forum Kepulauan Kangean Bersatu (FKKB) Hasan Basri menyambut baik kesepakatan tersebut. Ia menilai ini sebagai kemenangan rakyat Kangean.
“Dengan ditandatanganinya kesepakatan itu, kami nyatakan pihak KEI sudah mundur. Tapi perjuangan belum selesai. Gerakan ini akan naik ke tahap selanjutnya,” katanya, Jumat (27/06/2025).
Ia menandaskan, jika di kemudian hari ditemukan ada aktivitas kembali berupa sosialisasi atau survei dari pihak kecamatan maupun PT KEI, maka ia mengaku akan ada aksi massa besar-besaran.
“Kalau mereka tetap datang dan mencoba kembali melanjutkan survei seismik, maka kami minta warga tidak perlu ragu untuk menghentikannya. Bahkan, kalau perlu, diusir saja. Kesepakatan ini harus dihormati,” tandasnya.
Namun sejauh ini percaya dengan pihak kecamatan dan perusahaan akan konsisten menghormati kesepakatan yang telah dibuat.
“Warga Kangean tidak perlu gaduh. Kita percaya Pak Camat dan KEI paham konsekuensi jika mereka melanggar kesepakatan itu,” ujarnya.
Sebelumnya, Kangean Indonesia Energy Ltd berencana melakukan survei seismik tiga dimensi (3D) yang dilakukan di perairan dangkal ‘West’ Kangean. Sosialisasi rencana survei seismik tersebut sudah dilakukan.
Namun rencana tersebut ternyata menuai penolakan besar-besaran. Aksi demo masyarakat Kangean, baik di Kecamatan Arjasa maupun di depan Kantor Bupati Sumenep, beberapa kali terjadi.
Mereka yang menolak menamakan diri sebagai Gerakan Mahasiswa Kangean dan Forum Kepulauan Kangean Bersatu (FKKB). Selain itu, tanggapan keras juga muncul dari ormas Lakpesdam NU Kangean dan pemuda Muhammadiyah Kangean.
Penolakan itu didasari alasan bahwa pengeboran migas akan menyebabkan kerusakan ekosistem laut. Padahal, laut menjadi sumber penghidupan nelayan Kangean.
Penolakan serupa juga muncul dari anggota DPRD Sumenep, Ahmadi Yazid yang mewarning dampak eksplorasi migas. Apabila tidak berpihak pada masyarakat, dikhawatirkan pengeboran migas hanya menjadikan warga setempat sebagai penonton. Karena itu, rencana eksplorasi migas patut ditolak. (tem/ted)






