Malang (beritajatim.com) – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Yandri Susanto, menyatakan dukungan penuhnya terhadap program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB). Dalam pembekalan resmi yang digelar Kamis (26/6/2025), ia menegaskan bahwa mahasiswa UB punya potensi menjadikan desa sebagai kekuatan ekonomi baru, bahkan bisa mengungguli pendapatan warga kota.
“Saya sengaja datang karena program ini sejiwa dengan Kemendes. Membangun desa! Mahasiswa bisa menciptakan lapangan kerja, bukan jadi pengangguran. Tinggal di desa, tapi penghasilan bisa kalahkan orang kota,” tegas Yandri.
Menurut Yandri, UB memiliki potensi besar untuk memperkuat program strategis Kemendes seperti Koperasi Desa Merah Putih, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Desa Wisata, Desa Ekspor, hingga Desa Ketahanan Pangan dan Energi. Ia bahkan berencana ikut terjun langsung ke salah satu desa lokasi MMD di Jawa Timur untuk menyaksikan implementasi program mahasiswa.
“Mahasiswa UB bisa bantu dorong desa-desa tematik seperti desa cabai, desa ikan nila, atau desa bawang. Pasarnya sudah ada lewat program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih. Tinggal kita dukung hilirisasi dan kualitasnya,” jelasnya.
Ia menyebut, saat ini koperasi-koperasi desa yang tergabung dalam Koperasi Merah Putih tengah menyelesaikan legalitas hukum. Setelah itu, akan diarahkan ke unit usaha produktif seperti sembako, gas LPG, pupuk, apotek desa, klinik, hingga logistik. Modalnya bisa diperoleh melalui skema kredit dari bank anggota Himbara seperti BRI dan BNI, tanpa agunan.
“Kita harap mulai Juli, semua koperasi bisa ajukan permodalan ke bank. Mahasiswa bisa jadi fasilitator bisnis, pelaku, atau pendamping di desa-desa,” tambahnya.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menyampaikan terima kasih atas dukungan langsung dari Menteri Yandri. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan kementerian sangat strategis dalam upaya menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Program MMD ini bukan sekadar pengabdian, tetapi menjadi bukti konkret kontribusi perguruan tinggi dalam memberdayakan masyarakat,” ujar Prof. Widodo.

Ia menambahkan, mahasiswa UB akan membawa teknologi tepat guna (TTG), manajemen usaha, serta pendampingan branding dan pemasaran produk lokal. Tujuannya agar produk-produk desa yang awalnya belum memenuhi standar pasar dapat ditingkatkan kualitas dan nilainya sehingga layak ekspor.
“Kita ingin mencetak desa ekspor, dengan standar produk yang layak masuk pasar nasional bahkan global,” pungkasnya.
Yandri juga mengingatkan pentingnya semangat dan kesadaran sosial dari para mahasiswa yang turun ke desa. Ia berharap, program ini bukan hanya meningkatkan kualitas desa, tapi juga membentuk karakter mahasiswa sebagai pelopor pembangunan dari bawah.
“Kita boleh tinggal di desa, tapi bisa berpenghasilan seperti orang kota. Asalkan kreatif, tanggap peluang, dan mau mengembangkan potensi lokal. Jangan takut tantangan, kalau ada yang tak sesuai, lapor ke saya langsung,” tegasnya.
Dengan dukungan dari kementerian dan kekuatan akademik dari Universitas Brawijaya, diharapkan desa-desa di Jawa Timur akan menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan dan inklusif. (dan/kun)






