Jombang (beritajatim.com) – Di sebuah sudut sunyi Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, tersimpan cerita kecil yang terlupakan dalam sejarah besar negeri ini. Nama sederhana—Mbok Suwi—perlahan muncul dari kabut waktu, membawa serta secuil cahaya masa kecil Putra Sang Fajar, Ir. Soekarno, Sang Proklamator Republik Indonesia.
Cerita bermula dari kabar yang makin terang: bahwa Bung Karno, lahir bukan di Surabaya seperti yang banyak diyakini publik, melainkan di Ploso, Jombang, pada 6 Juni 1902. Dan di balik kelahirannya, ada sosok perempuan desa yang tak tercatat dalam buku sejarah, namun begitu dekat dalam perjalanan awal sang bayi yang kelak mengguncang dunia dengan pidato dan keberaniannya.
Mbok Suwi, perempuan bersahaja itu, dipercaya mulai mengasuh Bung Karno sejak usia enam hari. Ia bukanlah bidan, bukan pula keluarga bangsawan—hanya seorang perempuan biasa, yang hatinya begitu luas untuk menerima tugas mulia itu.
Menurut penuturan Abdul Hamid (68), cucu angkat Mbok Suwi, sang pengasuh datang bukan tiba-tiba. Jauh sebelum kelahiran Bung Karno, adiknya yang bernama Mbok Mira telah dimintai tolong oleh keluarga Raden Soekeni Sosrodiharjo—ayah Bung Karno—untuk mendampingi sang istri yang tengah hamil tua di Ploso. Namun karena kesibukan, Mbok Suwi baru bisa datang saat bayi kecil Soekarno berusia enam hari.
“Cerita ini saya dengar dari Ibu saya, Bu Sa’amah, yang sering ngobrol dengan Nyai Suwi,” kata Abdul Hamid, mengenang masa kecilnya bersama sosok tua yang penuh kasih itu, Selasa (24/6/2025).
Mbok Suwi bukanlah perempuan yang hidup dengan gemerlap. Ia tak memiliki anak kandung. Sa’anah, ibu Abdul Hamid, adalah keponakan yang kemudian diangkat menjadi anak, mewarisi kasih sayang seorang ibu yang seharusnya milik seorang bayi bernama Koesno—nama kecil Soekarno.
Sosok Mbok Suwi digambarkan sebagai perempuan berkulit kuning langsat, tinggi, dengan rambut yang telah memutih di usia senjanya. Mursyid (77), warga Rejoagung lainnya, mengaku masih sempat menjumpai Mbok Suwi ketika dirinya berusia sekitar 10 tahun. “Orangnya tinggi dan kuning, tapi sudah tua waktu itu,” kenangnya.
Meski tak banyak yang mengenang, makam Mbok Suwi kini ditemukan di makam Balongjati, Desa Rejoagung. Lokasi ini teridentifikasi berkat penelusuran sejarah yang dilakukan Binhad Nurrohmat bersama keluarga besar Persada Soekarno Wates Kediri pada tahun 2024.
Catatan kolonial menyebutkan bahwa Raden Soekeni memang pindah ke Ploso pada 28 Desember 1901 sebagai mantri guru di Sekolah Ongko Loro, membawa serta istrinya yang kala itu sedang mengandung. Mereka tinggal di Ploso hingga November 1907, sebelum kemudian hijrah ke Sidoarjo.
Namun, sejarah tak hanya ditulis oleh pena para penguasa, tetapi juga oleh tangan-tangan sunyi yang menyentuh bayi kecil dengan cinta tanpa pamrih.
Mbok Suwi tak pernah berdiri di podium, tak pernah difoto berdampingan dengan tokoh-tokoh revolusi. Tapi, di detik-detik awal kehidupan Bung Karno, di saat dunia belum mengenalnya sebagai proklamator, nama Mbok Suwi tercatat di langit sebagai perempuan pertama yang menjaga fajar negeri ini.
Dan kini, ketika kita menyebut nama Bung Karno, layaklah pula kita mengingat nama Mbok Suwi. Perempuan desa yang tanpa pernah berniat menjadi bagian dari sejarah—tapi nyatanya, telah menjadi pondasi dari lahirnya sebuah bangsa. [suf]






