Sabtu, 5 April 2025. Di tengah toples-toples berisi rengginang, mlinjo, dan kue-kue lebaran, yang tersaji di meja Warung Kopi Pitu Likur, di Jalan Bagong Tambangan, Surabaya, Fery Widyatama menyinggung keberadaan SIVB yang lain.
Hari mendung. Hujan akhirnya turun. Saya meriung bersama sejumlah pegiat Bonek Writers Forum, sebuah forum Bonek yang bergerak di bidang literasi, membicarakan rencana peringatan satu abad Persebaya.
Fery adalah sejarawan tak resmi Persebaya yang telah menerbitkan buku tentang pasang surut sepak bola bumiputera di Surabaya pada periode 1926-1942. Dan ketika dia menyebut SIVB, tentu saja itu sesuatu yang patut disimak.
SIVB adalah Soerabajasche Inlandsche Voetbal Bond, sebuah bond atau perkumpulan klub-klub sepak bola bumiputera di Surabaya yang di kemudian hari berubah nama menjadi Persatuan Sepak Bola Surabaya (Persebaya).
Namun SIVB yang dibicarakan Fery berbeda. Dia mengirimkan foto kliping koran terbitan medio September 1914. Di sana tertulis pengumuman undangan vergadering atau pertemuan Soerabajasche Islamijah Voetbal Bond yang juga disingkat SIVB atau Bond Sepak Bola Islam Surabaya.
Fery menyatakan belum banyak tahu soal SIVB versi ini. Namun informasi tersebut sudah cukup menunjukkan betapa dinamis dan kompleksnya sepak bola di Surabaya pada era kolonial: bahwa nama SIVB tidak eksklusif milik kelompok tertentu saja.
Sejarah Persebaya adalah bagian dari sejarah panjang sebuah kota penuh pergolakan yang oleh Bung Karno, dalam buku biografinya yang ditulis Cindy Adams, disamakan dengan New York: ‘kota pelabuhan yang sangat sibuk dan ribut…dimana bergolak persaingan, pemboikotan, perkelahian di jalan‐jalan‘.
Dan dari hasil risetnya di Perpustakaan Nasional, dengan menekuni mikrofilm koran-koran terbitan masa kolonial, Fery menemukan informasi bahwa Persebaya lebih tua daripada yang dirayakan banyak orang.
Hasil riset Fery menunjukkan Soerabajasche Inlandsche Voetbal Bond memiliki dua periode kehidupan. SIVB periode pertama sudah disebut dalam artikel koran terbitan 1923. “Ini bukan hari lahirnya, tapi eksistensinya,” katanya, Rabu (18/6/2025).
SIVB periode pertama ini memiliki sejumlah klub anggota yakni BEO, Hercules, Kemajoran Voetbal Club, KMR, Kras, Mars, Radio, Riboet, SHVC, Sinar Hindia, Tjahja Tjarikan, dan Vogel. Kompetisi internal pada 1923 dijuarai Inlandsche Voetbal Club.
SIVB bukan satu-satunya persatuan (bond) sepak bola di Surabaya yang memiliki sejumlah klub anggota. Patjar Keling Inlandsche Voetbal Bond memiliki enam klub anggota. Sementara itu Soerabaiasche Voetbal Bond Sinar Kota memiliki dua level kompetisi internal.
Tiga bond ini bersaing menarik perhatian publik. SIVB sempat mengundang klub sepak bola dari Solo, Mars, untuk bertanding melawan tiga perkumpulan sepak bola yang menjadi anggota SIVB pada 1924.
SIVB periode pertama bubar setelah terjadi pertikaian di dalam lapangan yang konyol antara Tjahja Tjarikan melawan Kemajoran pada 1925. Kemajoran menolak pergantian pemain tim lawan yang cedera.
Suasana memanas. Tjahja Tjarikan melakukan aksi mogok. Ini membuat penonton yamg sudah telanjur membeli tiket marah. Mereka merusak loket tiket dan menyerbu ke dalam lapangan. “Jadi sebenarnya pitch invasion sudah ada dalam sejarah sepak bola Surabaya,” kata Fery tertawa.
Situasi buruk itu berdampak panjang. Senin, 10 Agustus 1925, pengurus sepakat membubarkan SIVB. Bakri sebagai Ketua SIVB periode pertama sepakat menunjuk Suroto untuk memimpin sebuah komite untuk menyatukan tiga bond sepak bola di Surabaya.
Suroto berhasil menyatukan tiga klub sepak bola bumiputera di Surabaya di bawah naungan nama Soerabajasche Inlandsdhe Voetbal Bond pada 20 Mei 1926.
Temuan Fery ini berbeda dengan hari lahir resmi 18 Juni 1927 yang ditetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persebaya pada 1952. “Saya kira penentuan tanggal itu berdasarkan ingatan saja, karena memang arsip-arsip tentang Persebaya susah ditemukan. Akhirnya daripada pusing-pusing, ditetapkan 18 Juni 1927,” katanya.
Namun apapun itu, SIVB menjadi wadah sepak bola bumiputera di Surabaya sejak berdiri. Tak hanya orang Jawa, klub ini membuka tangan untuk orang-orang Minahasa, Batak, Ambon dan etnis lainnya.
Nama Inlandsche berubah menjadi Indonesische pada 1930 setelah Kongres Pemuda 1928. “Setelah PSSI berdiri, semua klub wajib menggunakan nama berbahasa Indonesia. SIVB berganti nama menjadi Persatoean Sepakraga Indonesia Soerabaja (Persibaja) pada 1938, sekaligus ada logonya meski belum ditempelkan di dada jersey,” kata Fery.
Panji Persibaja diarak pertama kali oleh anggota kepanduan dari ruang ganti stadion bersama panji klub Solo, Purwakarta, dan Jakarta di stadion pada 1938 dalam pertandingan turnamen Stedenwedstrijsden.
Warna kostum mereka: hijau.
Peran Kelas Menengah Terpelajar dan Pemboikotan
Sehari menjelang peringatan hari jadi Persebaya, 17 Juni 2025, manajemen Persebaya bersama pelatih kepala Eduardo Perez dan pemain Andika Ramadhani dan Tony Firmansyah, berziarah ke makam M. Pamoedji, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pegirian, Surabaya.
Pamoedji punya peran penting dalam sejarah Persebaya dan sepak bola Indonesia. Sebagai anggota komisi reorganisasi SIVB 1931, dia mewakili klub tersebut dalam pertemuan untuk mendirikan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 19 April 1930.
Pamoedji bukan satu-satunya nama penting di Persebaya. Ada sosok misterius bernama Paijo. Disebut miisterius, karena belum ada referensi primer yang menunjukkan jatidirinya. Namun namanya sering disebut-sebut bersama Pamoedji.
Fery menduga Paijo adalah nama samaran. “Mungkin dia tidak berani untuk menampilkan nama aslinya, karena bekerja di Dewan Kota Surabaya,” katanya.
Takdir sejarah Persebaya memang menempatkan politisi dan kelas menengah terpelajar sebagai orang-orang di balik layar. JK Lengkong, seorang Minahasa yang menjadi ketua umum klub pada 1937-38 adalah politisi kota. Ada juga ningrat bernama Raden Mas Ngabehi Askabul Joyo Pranolo yang sempat menjadi ketua umum pada 1931.
“Persebaya ini entitas yang didirikan orang-orang, yang selain bangsawan, juga cendekiawan. Bisa jadi Indonesische Study Club yang didirikan oleh dr. Soetomo dan kawan-kawan juga mengawali berdirinya SIVB. Orang-orang yang pernah memimpin adalah orang-orang pemerintahan atau Dewan Kota,” kata Fery.
Bung Karno pernah mengatakan kepada Cindy Adams, bahwa Surabaya adalah kota yang ‘bergolak dengan ketidakpuasan dari orang‐orang revolusioner‘. Dan dari lapangan sepak bola, pergolakan revolusioner itu meletup. Persebaya mendefinisikan Surabaya sebagai kota perlawanan dan persatuan.
SIVB menjadi kompetitor Soerabajasche Voetbal Bond yang bernaung di bawah federasi sepak bola yang berafilisasi dengan NIVB (Nederlandsch Indische Voetbal Bond) atau Persatuan Sepak Bola Hindia Belanda yang berdiri pada 1919.
Setelah PSSI berdiri, situasi memanas. SVB membatalkan pertandingan klub anggotanya Excelsior melawan SIVB sehari sebelum Hari-H. Sejak saat itu, SIVB memboikot semua pertandingan melawan SVB dan klub anggota mereka.
Kebijakan rasis NIVB yang melarang orang bumiputera dan Tionghoa menyaksikan pertandingan sepak bola di Surabaya meletupkan pemboikotan yang merembet ke kota-kota lain. SIVB memanfaatkan momentum itu untuk berkampanye agar warga lokal menyaksikan pertandingan klub tersebut di lapangan Pasar Turi.
Tak hanya memboikot. Warga Surabaya juga mengancam akan membunuh pemain-pemain pribumi dan Tionghoa yang masih bermain untuk SVB dan klub-klub anggotanya.
Aksi boikot ini pada akhirnya menyatukan warga pribumi, keturunan Tionghoa, dan keturunan Arab, dan membuat pemerintah kolonial Belanda gentar. Badan intelijen politik pemerintah kolonial bergerak dan menangkap Liem Koen Hian dan sejumlah tokoh di balik aksi boikot itu, usai pertandingan persahabatan Indonesia Marine melawan Arabisch XI dan Tim Selection Bumiputera melawan Tionghoa-Arab.
Pertandingan berakhir dengan skor 0-0.
Puluhan tahun kemudian, di tengah toples-toples berisi rengginang, mlinjo, dan kue-kue lebaran, kami pun membuka diskusi tentang kemungkinan yang lain.
Jadi, satu abad Persebaya akan dirayakan tahun depan atau dua tahun lagi? [wir]






