Banyuwangi (beritajatim.com) – Produksi ikan asin di kawasan pengasinan Kecamatan Muncar, Banyuwangi, mengalami penyusutan signifikan dalam sebulan terakhir. Hal ini disebabkan menurunnya hasil tangkapan nelayan, yang membuat pengusaha pengasin kesulitan memperoleh bahan baku utama berupa ikan segar.
Di Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, lokasi yang biasanya dipenuhi nampan-nampan jemuran ikan asin kini terlihat lengang. Banyak pelaku usaha tidak berproduksi karena pasokan ikan nyaris tidak tersedia.
Hasan, salah satu pengasin yang telah menjalankan usaha ini selama 27 tahun, mengaku terakhir kali mudah mendapatkan bahan baku saat bulan puasa lalu. Setelah itu, suplai ikan dari nelayan menurun drastis.
“Beruntungnya saya masih dapat kiriman ikan dari luar Muncar, jadi saya masih bisa memproduksi. Meskipun harganya lebih mahal. Kalau dari nelayan lokal sekilo Rp 6 ribu, kalau ngambil dari luar sekilo bisa Rp 10 ribu,” ujarnya, Selasa (17/6/2025).
Saat kondisi normal, Hasan mampu mengolah 7–8 kwintal ikan per hari dengan bantuan delapan karyawan. Kini, ia hanya bisa memproduksi sekitar 3 kwintal sehari. Meskipun begitu, ia tetap mempertahankan ritme produksi agar usaha tetap berjalan.
Jenis ikan yang biasa diolah meliputi sempenit dan layang, dua jenis yang paling diminati pasar. Namun saat tersedia, ia juga mengolah ikan petek, teri kering, dan cumi-cumi.
“Hari ini ada 3 kwintal yang saya produksi,” jelasnya.
Produksi ikan asin Hasan dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk Bali, Madura, dan Jakarta. Harga jual bergantung pada ketersediaan stok. Saat ini, ikan asin sempenit dijual antara Rp18 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram, ikan layang Rp20 ribu hingga Rp25 ribu, dan cumi asin mencapai Rp95 ribu per kilogram.
“Harga jual ikan asin berubah-ubah seiring dengan ketersedian stok,” pungkasnya. [alr/beq]






