Di era kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) yang kian berkembang pesat, masihkan ‘kita butuh’ belajar sastra?
“Untuk apa mempelajari puisi ketika mesin bisa membuatnya dalam lima detik?” begitu bunyi pertanyaan yang sering muncul dalam ruang diskusi, kadang selentingan itu juga muncul di ruang kelas. Namun persoalan kita hari ini bukan lagi soal mati atau hidupnya sastra, melainkan bagaimana disiplin sastra juga pembelajarannya memaknai dirinya kembali di tengah gelombang teknologi.
Ketika AI tengah digadang-gadang membunuh peran manusia, studi sastra yang bersifat reflektif lagi substansial kian dipertanyakan. Krisis itu lebih dari sekadar kegusaran karena adanya AI. Di Amerika Serikat, misalnya, persentase mahasiswa jurusan humaniora, khususnya sastra merosot dari sekitar 15 persen menjadi kurang dari 5 persen antara 2002–2020. Bahkan di kampus bergengsi seperti Columbia University turun dari 10 persen menjadi 5 persen.
Dalam laporannya, Nathan Heller menyimpulkan bahwa kemunduran jurusan humaniora bukanlah kegagalan pasar tunggal, melainkan gejala kompleks kombinasi kelemahan internal departemen dan tekanan pasar kerja.
Ketika diskusi di Warung Kopi bersama seorang kawan, Yohan Fikri dan Erha Authonul Muther, kami sepakat, bahwa AI itu adalah alat, sekali lagi, alat yang sangat berguna untuk mendukung kinerja, terutama kita yang memiliki aktivitas harian tidak jauh dengan tulis-menulis.
Namun, akan salah kaprah apabila sebelum memakai AI kita tidak memiliki bekal skill menulis yang baik, menyusun kalimat yang utuh, kemudian memiliki ciri ‘khas’ gaya selingkung sendiri. Sebab dengan begitu, kita telah menggadaikan kebodohan ‘itu’ pada alat.
Sebelum kita bermain-main dan bertekun dengan AI, maka perlu menggali kemampuan diri sendiri terlebih dahulu. Jangan sampai kita yang dikendalikan sepenuhnya oleh AI, karena dia seperti suatu entitas yang tidak kita mengerti, kitalah yang harusnya mengendalikan keberadaan AI itu.
Nick Bostrom, jauh-jauh hari dalam bukunya Superintelligence (2014), telah memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dapat melampaui kapasitas manusia, bahkan melangkah ke arah yang tak lagi bisa kita kendalikan. Sementara itu, Yuval Noah Harari dalam salah satu esai terbarunya menyebut bahwa di zaman mesin yang bisa menjawab segalanya, justru kekuatan utama manusia adalah kemampuan untuk bertanya.
Inilah inti dari studi sastra, keberanian menggugat, merenung, mempertanyakan makna, dan menyuarakan kegelisahan. Ketika mesin menjawab cepat lagi ringkas, manusia justru dibutuhkan untuk memperlambat, menyusun ulang pertanyaan, kita harus memberi makna baru pada jawaban.
Sayangnya, tidak sedikit mahasiswa, kadangkala juga bahkan pengajar yang silau oleh kecanggihan AI. Kita bersorak karena mesin bisa membuat esai dalam hitungan detik, atau menghasilkan sinopsis cerpen dengan rapi nan efisien.
Tapi di balik itu, kita sering lupa: semakin kita bergantung pada mesin tanpa fondasi pengetahuan, kebiasaan berpikir yang matang maka semakin tipis peran kita sebagai subjek. AI hanya akan menjadi alat yang bijak jika kita, para penggunanya, memiliki kearifan literer. Tanpa kemampuan menulis, berpikir kritis, dan memahami struktur narasi, manusia akan segera tergelincir menjadi pelayan dari teknologi yang ia ciptakan sendiri.
Namun bukan berarti kita harus menolak AI mentah-mentah. Andrew Ng, pendiri Coursera dan pakar AI global, pernah mengatakan bahwa AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi orang yang tidak bisa menggunakan AI akan tergantikan oleh mereka yang menguasai AI. Pernyataan itu seharusnya tidak dibaca dengan nada apokaliptik, melainkan sebagai ajakan untuk bertransformasi. Lulusan sastra, saya pikir, memiliki peluang luas jika mampu memadukan kecakapan berbahasa dan pemahaman budaya dengan kecerdasan teknologi.
Terdapat ‘celah’ karier yang terbuka luas bagi mereka, anak-anak ‘sastra’. Menjadi pengajar dan pendidik, misalnya, tetap relevan karena proses pengajaran yang efektif membutuhkan interaksi emosional, empati, dan kemampuan membaca situasi, sesuatu yang tak bisa digantikan oleh mesin. Di bidang kreatif, penulis naskah film, pembuat konten, bahkan skenaristis interaktif masih membutuhkan kepekaan manusiawi. Cerita yang menyentuh batin dan menggelitik kesadaran tidak lahir dari algoritma semata.
Selain itu, dunia kerja saat ini mulai menyerap lulusan humaniora sebagai peneliti UX (user experience), desainer percakapan chatbot, hingga pengelola lokalisasi produk global. Semua itu membutuhkan sensitivitas terhadap bahasa, budaya, dan konteks kemampuan yang dilatih lewat studi sastra. Bahkan dalam dunia jurnalisme, keterampilan menggali narasi, mengemas informasi dengan pendekatan budaya, dan menulis dengan gaya khas tetap sangat dibutuhkan. AI bisa menjadi asisten riset, penyunting awal, bahkan pemberi saran struktur narasi. Tapi hanya manusialah yang dapat memilih diksi, membangun logika emosi, dan menumbuhkan resonansi pembaca.
Yang perlu disadari sejak di kampus adalah bahwa AI bukan musuh, tetapi mitra. AI adalah alat untuk kita jadikan asisten. Sudah banyak alat bantu yang bisa diintegrasikan dalam proses belajar, seperti ChatGPT, Grammarly, Google Gemini, Turnitin, Duolingo, Rosetta Stone, hingga software pelatihan aksen dan pelafalan. Namun semua itu baru berguna ketika mahasiswa sudah lebih dulu memiliki kemampuan dasar: bisa menulis, bisa mengorganisasi ide, bisa membangun sudut pandang. Tanpa pondasi itu, semua teknologi hanya akan menghasilkan karya yang steril, kosong, dan mekanis.
Kampus harus menjadi ruang untuk menyatukan daya literer yang berdaya teknologis. Bukan sekadar mengajarkan sastra seperti dahulu, tenggelam dalam teks dan teori semata, tetapi membuka ruang kolaborasi lintas bidang, saya pikir seperti sastra dan pemrograman, linguistik dan desain UI, kritik budaya maupun bidang rekayasa AI.
Di sinilah lulusan sastra masa depan ditempa, bukan hanya memahami Shakespeare dan Pramoedya, melainkan juga mampu mendesain sistem tanya-jawab berbasis AI yang bisa menirukan gaya bahasa Seno Gumira Ajidarma, Nirwan Dewanto, bahkan mungkin Goenawan Mohamad.
Jadi, apakah kita harus khawatir belajar sastra di tengah gempuran AI? Saya kira tidak. Justru saat inilah momen paling penting untuk menyadari bahwa kemampuan menggugat, menulis, dan membentuk makna adalah kekuatan utama manusia, itu semua adalah inti dari studi sastra.
Bila kita mampu menyelaraskan nalar kritis dengan keterampilan teknologis, maka kita bukan hanya akan tetap relevan, tapi juga menjadi salah satu penjaga utama akal sehat di era algoritma. Belajar sastra di zaman AI berarti merangkul teknologi tanpa kehilangan nyawa bahasa. Dari kampus ke dunia kerja, dari teks ke konteks, dari teori ke praktik, semua hanya mungkin jika kita tetap menjadi manusia yang berpikir, merasa, sekaligus juga bertanya.
Muhammad Afnani Alifian,
Pengamat Budaya Kontemporer.






