Surabaya — Di sebuah sudut kota Surabaya, berkenalan dengan Nurhadi (52) yang tengah menjaga loket wahana sembari melayani pengunjung yang datang.
Di balik senyuman ramahnya, terdapat banyak kisah keluh kesah, jatuh bangun ia sampai di titik ini. Profesi yang ia jalani sekarang tidak lain hanyalah untuk mencukupi kebutuhan keluarga
“Dulu kan kita home industry bikin sepatu sendiri di rumah, setelah ada virus corona, akhirnya kita jatuh dan untuk bangkit lagi susah. Modal sudah ga ada dan 2 tahun kita menganggur.” Kenangnya sambil tersenyum tipis.
Home industry adalah pekerjaan turun temurun keluarga Nurhadi. Namun, musibah tidak ada yang menyangka dapat datang kapan saja. Duka besar yang ia rasakan adalah keterpaksaan untuk tidak bisa mengantarkan anak sampai ke jenjang perguruan tinggi.
Segala upaya telah Nurhadi lakukan mulai dari menjadi petugas kebersihan, berjualan es cao, ojek online, dan tak lupa dengan istri tercinta yang setia membantu di sampingnya membuka warung soto setiap pagi bersama tetangga. Semua itu dilakukan untuk membahagiakan istri dan 3 anaknya di rumah.
Hingga pada suatu saat, Nurhadi dipertemukan dengan satu kesempatan ia bisa mendapatkan pekerjaan dari pemerintah kota.
“Setelah itu ada panggilan dari pemkot kita terima karena pemkot yang kasih barangkali gajinya lumayan.” ucapnya.
Karena usianya yang sudah tidak muda lagi, ia merasa tak ada pilihan lain selain menerima tawaran tersebut. Motivasi pun kembali tumbuh ketika melihat anak dan istrinya, terutama anak kedua yang tengah berjuang menjadi atlet panjat tebing.
Sudah 2 tahun lamanya Nurhadi menjadi salah satu dari 17 pekerja MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) di lokasi wisata Adventure Land Romokalisari Surabaya.
Kesehariannya adalah menunggu pengunjung untuk datang dan ia layani. Penghasilan yang ia peroleh setiap harinya sangat bergantung pada jumlah pengunjung yang menaiki wahana di tempat ia bekerja.
“Sistemnya mengelola wahana kalo ada pengunjung, hasilnya masuk ke anggota MBR. Per hari misal 1 juta dibagi 17 orang, dipotong uang operasional, bensin, perbaikan, sisanya baru dibagi tiap 2 minggu sekali. Kalau memang ga ada pengunjung sama sekali ya ga dapet apa-apa.” Jelas Rasimin Alifikri (62) sebagai ketua paguyuban MBR Adventureland Romokalisari.
Ia menceritakan awal mula pekerjaan yang terlihat menjanjikan, dengan pendapatan yang masih stabil saat peresmian dibandingkan dengan kondisi sekarang.
Tak hanya penghasilan per hari yang menurun, jumlah pekerja MBR yang semula mencapai 100 orang kini menyusut drastis menjadi hanya 17 orang, termasuk Nurhadi.
“Alasan keluar karena ada pekerjaan di luar penghasilan lebih mapan. Yang 17 ini bisa dibilang sudah lansia, ga ada kerjaan lain.” Kata Rasimin.
Kekecewaan mereka sempat diaspirasikan melalui aksi mogok kerja dengan tuntutan agar diberikan gaji tetap karena penghasilan yang tidak menentu.
Melalui lika-liku yang tak berujung, pada akhirnya selain dari wahana: perahu, ATV, kuda, sekoci, dan kanoe para pekerja MBR juga dapat pemasukan dari tarif parkir sebesar Rp 5000. itupun tetap bergantung pada ramai tidaknya pengunjung.
“Maunya digaji sama orang dinas setiap bulan dan tidak tergantung dari pendapatan, digaji yang layak seperti orang-orang di luar sana.” ucap Nurhadi dengan penuh harapan.
Penghasilan yang didapat dari pekerjaan yang ia lakukan sekarang memang jauh dari cukup. Namun dengan tekun ia jalani keseharian bekerja sebagai MBR dan pekerjaan sampingan lainnya. Untungnya, ia dianugerahi keluarga yang suportif yang turut meringankan bebannya sebagai tulang punggung.
“Saya bilang sabar kehidupan kan roda kan berputar orang ga selalu di atas terus, jadi kita tetap siap untuk jatuh ke bawah. Namun kita tetap berusaha untuk bangkit lagi.” tutup Nurhadi mengekspresikan semangat hidupnya demi keluarga tercinta.
Penulis : Shine Nathalie Angel Dami
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.






