Surabaya – Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang terus berkembang, kebudayaan tradisional seringkali menghadapi berbagai tantangan.
Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memastikan budaya warisan leluhur tetap memiliki tempat dan makna, khususnya di mata generasi muda.
Kini, lebih banyak remaja yang lebih hafal gerakan dance K-pop daripada memahami dan mengerti maksud dan tujuan dari setiap gerakan tari tradisional.
Meski budaya asing sangat populer, masih ada tempat-tempat kecil yang berusaha menjaga budaya Indonesia tetap hidup, salah satunya lewat sanggar tari.
Kota Surabaya menjadi contoh nyata bagaimana budaya bisa terus dilestarikan lewat sanggar tari, dimana anak-anak mudanya tetap mencintai dan merawat budaya mereka sendiri.
Di Sanggar Tari Bali Naraswari terdapat latihan rutin yang diadakan setiap Jumat sore yang berlokasi di Pendopo Jayengrana, Cak Durasim jalan Genteng Kali, No. 85, Surabaya.
Wahyu (17), salah satu penari di sanggar tersebut mengaku lebih tertarik untuk menari tradisional dan ia menyadari bahwa melestarikan tari tradisional bukan hal yang mudah.
“Sebagai anak muda, tantangannya cukup besar karena banyak budaya luar yang masuk ke Indonesia. Sayangnya, kita kadang kesulitan membedakan mana yang cocok dan mana yang tidak, sehingga budaya kita sendiri bisa terlupakan,” katanya
Tirta (26), pelatih tari di Sanggar Tari Bali Naraswari, melihat bahwa sebenarnya generasi muda masih punya potensi besar untuk mencintai tari tradisional.
“Anak-anak bisa tertarik pada tari tradisional karena karakter jiwanya memang cocok, misalnya salah satu murid saya yang berasal dari Bali, secara alami sudah punya kedekatan dengan budaya Bali itu sendiri,” ujarnya.
Namun, menurut Tirta, tantangan terbesarnya adalah banyaknya budaya luar yang masuk, sehingga makin sulit menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Indonesia.
“Apalagi tari Bali punya tingkat kesulitan dengan teknik yang cukup tinggi. Tetapi selama kita bisa terus menanamkan pentingnya menjaga budaya sendiri, anak-anak tidak akan mudah melupakannya hal tersebut” tambahnya.
Melalui cara yang berbeda, namun dengan semangat yang sama juga terlihat di Sanggar Tari Prastika Surabaya.
Sanggar Tari Prastika menggelar latihan setiap hari Sabtu yang berlokasi di Kantor Kelurahan Kebraon, jalan Griya Kebraon, No. 1, Karangpilang, Surabaya.
Shella (16), salah satu penari di sanggar tersebut, dengan bangga mengatakan bahwa menari adalah bentuk cintanya pada budaya Indonesia “kita harus terus melestarikan budaya, agar budaya kita nggak punah,” ujarnya.
Pimpinan sanggar tari, Ketut Santoso menyampaikan bahwa minat beberapa anak muda terhadap tari tradisional masih cukup tinggi meskipun dengan adanya gempuran tari modern.
“Anak-anak masih antusias karena sering ada acara dan dukungan dari berbagai lembaga yang membuat mereka tertarik belajar tari tradisional,” ujarnya.

Ia percaya bahwa daya tarik tari tradisional muncul karena tradisinya sudah terbentuk dan tertata, sehingga akan mudah disukai.
Meski berbeda pendekatan, baik Sanggar Naraswari maupun Sanggar Puspita sama-sama menunjukkan bahwa semangat untuk melestarikan budaya masih kuat di kalangan anak muda.
Keterlibatan generasi muda dalam belajar dan menjaga tari tradisional jadi tanda bahwa budaya Indonesia masih punya harapan untuk terus hidup.
Dengan dukungan dari pemerintah, pelatih, komunitas, orang tua dan pihak-pihak yang peduli akan budaya Indonesia, dimana sanggar seperti ini bisa jadi tempat aman dan menyenangkan bagi anak muda untuk tetap dekat dengan budaya tradisional Nusantara. (ted)
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya






