“Siapa saja yang mengatakan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, artinya dia tidak tahu tempat untuk membelanjakannya,”
Ungkapan dari penulis AS Gertrude Stein itu diamini oleh Roman Abramovich dan Nasser Al-Khelaifi. Setidaknya, dua taipan itu harus menunggu bertahun-tahun agar uang yang mereka belanjakan benar-benar tepat sasaran.
Kita membicarakan Liga Champions. Lambang supremasi tertinggi klub-klub benua biru. Tanpa itu, klub idola Anda belum sah menyandang predikat sebagai tim top Eropa.
“Dengan segala perjuangan dalam 14 tahun terakhir, ini istimewa. Bukan sekadar bagi Paris Saint-Germain. Melainkan juga Prancis. Aku bahkan tidur dengan trofi ini kemarin. Awalnya, itu seperti mimpi. Ketika bangun, ini nyata,” ujar Nasser Al-Khelaifi kepada TF1.
Ya, mimpinya memenangi Si Kuping Besar baru terwujud tahun ini. Les Parisiens tanpa ampun menghabisi Inter Milan lima gol tanpa balas pada laga final kemarin.
Penantian Al-Khelaifi lebih lama dari Abramovich. Ketika membeli Chelsea pada 2003, Abramovich baru merasakan gelar Liga Champions pada 2012. Uniknya, venue final yang dimainkan Chelsea kala itu sama seperti PSG ketika mengalahkan Inter; Fussball Arena, Munchen. Abramovich mengeluarkan EUR854,3 juta (Rp15,8 triliun) untuk membeli pemain hingga Chelsea memenangi final 2012.
Al-Khelaifi yang sekaligus chairman dari Qatar Sports Investments (QSI) jadi pemimpin tertinggi PSG. Itu berlaku sejak QSI mengakuisisi PSG pada Juni 2011 dan menempatkan Al-Khelaifi sebagai presiden PSG.
Sebelum musim ini, PSG telah memenangi 33 gelar. Atau jika dirata-rata 2,35 trofi per musim. Cukup banyak. Tetapi, itu hanya terjadi di kancah domestik. 33 gelar yang serasa tidak ada artinya tanpa gelar Liga Champions. Prestasi terbaik PSG di Liga Champions adalah runner-up 2019–2020.
Demi “membeli” trofi Liga Champions, Al-Khelaifi sampai harus mengeluarkan EUR2,279 miliar (Rp42,44 triliun) untuk membeli semua pemain sejak 2011. Termasuk Neymar dengan EUR222 juta (Rp4,1 triliun) pada 2017 ketika memecahkan rekor transfer termahal sepanjang sejarah yang masih bertahan hingga kini.
Memang, dalam kurun waktu yang sama PSG juga mencatatkan penjualan pemain sebesar EUR865,05 juta (Rp16 triliun). Tetapi, pembelian jor-joran mereka lebih mendapat sorotan.
PSG bahkan sempat memiliki trisula paling maut ketika mendatangkan Lionel Messi pada 2021. Melengkapi Neymar dan Kylian Mbappe. Tetapi, kolaborasi yang di atas kertas bikin keder semua lini belakang lawan tersebut malah antiklimaks. Dalam dua musim (2021-2023), PSG hanya sanggup bertahan di 16 besar Liga Champions.
Ironisnya, PSG justru bisa jadi juara ketika tiga pemain itu pergi. Mbappe jadi yang terakhir out pada awal musim ini. Dia ke Real Madrid sekaligus mewujudkan mimpi masa kecilnya. Tetapi, Real yang berstatus raja Eropa dengan 15 titel Liga Champions malah hanya sanggup bertahan hingga perempat final.
“Pemain bintang seperti Thiago Silva, Lucas Moura, Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, dan Angel Di Maria pernah ada di tim ini. Tetapi, mereka gagal (juara Liga Champions, Red). Mereka semua yang pernah berkostum PSG adalah idolaku. Kini, kami berhasil memenanginya dan membawa pulang trofi ini,” ucap kapten PSG Marquinhos kepada beIN Sports.
Mimpi telah terbeli. Tidak ada lagi penasaran di hati Al-Khelaifi. Tantangan di musim-musim mendatang akan semakin berat; membuktikan bahwa PSG bukan sekadar kebetulan memenangi Liga Champions musim ini. (dio)





