Surabaya (beritajatim.com) – Museum Dr Soetomo Surabaya menghadirkan pengalaman belajar sejarah yang berbeda melalui pameran imersif Cross Musea 2025 yang digelar sejak tanggal 21 Mei 2025 hingga 31 Mei 2025 mendatang.
Mengusung tema “Arutala”, pameran ini menyatukan koleksi dari enam museum tematik dalam satu ruang dengan pendekatan teknologi digital interaktif.
Diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, pameran ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, serta Hari Jadi Kota Surabaya ke-732.
Pameran ini terbuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, dengan harga tiket Rp5.000 untuk pengunjung umum dan Rp3.000 bagi pelajar dari luar Surabaya. Pelajar asal Surabaya dapat menikmati pameran ini secara gratis.
Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” dari koleksi Museum R.A. Kartini Rembang dipamerkan di Cross Musea 2025
Enam museum yang berpartisipasi dalam kolaborasi ini antara lain Museum R.A. Kartini Rembang, Museum Multatuli Banten, Museum Dewantara Kirti Griya Yogyakarta, Museum Dr. Soetomo Surabaya, Museum W.R. Supratman, dan Museum H.O.S. Tjokroaminoto.
Setiap museum menyumbangkan koleksinya yang kemudian dijelaskan dengan pendekatan imersif menggabungkan proyeksi visual dan surround sound.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Museum dan gedung Seni Balai Budaya Kota Surabaya, Saidatul Ma’munah menyampaikan bahwa pendekatan imersif dipilih untuk menjangkau generasi muda.
”Konsep imersif yang kita sajikan pada tahun ini karena tahun-tahun sebelumnya tanpa imersif. Tujuan utamanya untuk menarik Gen Z dan Gen Alpha, karena melihat budaya membaca masih kurang bagi teman-teman siswa. Kalau disajikan seperti ini bisa langsung melihat, mendengar, sekalian langsung mengingat di benak masing-masing,” jelas Saidatul.
Pemilihan tema “Arutala”, yang berasal dari bahasa Sanskerta dan berarti cita-cita yang tinggi mencerminkan harapan agar nilai-nilai perjuangan para pahlawan dapat diwariskan kepada generasi muda.
Video imersif yang ditampilkan menggambarkan kisah-kisah perjuangan tokoh-tokoh nasional secara naratif memungkinkan pelajar memahami sejarah melalui pengalaman.
Pengalaman imersif ini dianggap sebagai pendekatan baru dalam pendidikan sejarah yang lebih relevan di era digital juga mendapat respons positif dari kalangan mahasiswa.
Salah satu pengunjung, Vany, mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya, mengaku kagum dengan penyajian visual yang berbeda dari museum pada umumnya.
”Untuk Imersifnya sendiri menurut aku cukup menarik ya dengan penggunaan teknologi saat ini untuk mempromosikan museum, kayaknya kalau emang tujuannya untuk anak sekolah itu sangat menarik karena tadi sempat sama anak-anak SMP, mereka semua liatnya tadi kayak woah gitu-gitu dan kita juga sebenarnya sebagai mahasiswa juga agak woah-woah gitu dengan tampilannya.”kata Vany.
”Jujur merasa lebih dekat banget dengan sejarah karena penjelasannya tadi juga ringkas tapi gak menghilangkan maknanya gitu dan karena basiclly aku juga paham sama sejarahnya dan penjelasan yang diberikan juga mudah dipahami tapi tetep ga menghilangkan esensi atau gak melenceng dari jalur cerita aslinya,” tambahnya.
Melalui pendekatan baru ini, Pameran Cross Musea 2025 bukan hanya memperkenalkan koleksi sejarah tetapi juga memperkenalkan model edukasi baru tentang sejarah yang menarik dan relevan bagi generasi digital.
Penulis: Rebecca Gultom
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya






